Senin, 21 Oktober 2013

TATA CARA PERKAWINAN HINDU ETNIS BALI

ditulis kembali oleh : dr. ING.Mudiarcana
Wakil Ketua PHDI OKU

Dalam setiap pelaksanaan upacara perkawin an, agama Hindu tidak mengabaikan adat yang telah terpadu dalam masyarakat, karena dalam agama Hindu selain berpedoman pada Kitab Weda (Sruti), umat Hindu juga dapat berpedoman pada Śmrti, dan hukum Hindu yang berdasarkan kebiasaan yang telah dilakukan secara turun temurun disuatu tempat yang biasa disebut Ācāra. Dengan melakukan upacara yang dilandasi oleh ajaran yang diajarkan dalam kitab suci dan mengikuti tata cara adat yang telah berlaku turun temurun, maka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia ini (jagaditha) dan kebahagiaan yang abadi (Moksa).

Sistem perkawinan yang umum dilaksanakan oleh umat Hindu etnis Bali adalah dengan cara :


      A.    Memadik/Melamar
      B.     Merangkat/ Ngerorod.


A. CARA PERKAWINAN MEMADIK

1.  MENCARI HARI BAIK/PADEWASAN

Mencari hari baik (dewasa) biasanya dilakukan oleh pihak pengantin pria, dengan cara minta petunjuk kepada seorang Sulinggih atau seseorang yang sudah biasa memberikan dewasa (nibakang padewasaan). Adapun dewasa yang diminta biasanya berurutan sesuai dengan acara-acara dalam pelaksanaan upacara perkawinan, antara lain: dewasa pangenten (pemberitahuan), dewasa mererasan (meminang/mapadik), dewasa penjemputan calon pengantin wanita dan dewasa pawiwahan.

2. PANGENTEN/PEMBERITAHUAN

Pada hari ini orang tua calon pengantin pria datang ke rumah calon pengantin wanita bertemu dengan orang tuanya untuk bermusyawarah mengenai tujuan dari kedua calon pengantin serta meminta persetujuan kepada orang tua calon pengantin wanita tentang hari baik (padewasan sesuai dengan tahapan acara perkawinan), seperti pasobyah (mengumumkan) kepada keluarga besar di masing-masing kedua keluarga calon pengantin dan mengumpulkan keluarga besarnya untuk bisa menyampaikan tentang tujuan keluarga calon pengantin serta memohon bantuannya baik bersifat phisik maupun material.

3. MERERASAN/MEMINANG/MEMADIK

Pada hari ini keluarga besar dari pihak calon pengantin pria datang ke rumah calon pengatin wanita untuk meminang. Pada saat melamar, kadang-kadang masing-masing keluarga calon pengantin mengungkap atau memaparkan silsilah keluarga. Pada saat melamar pihak keluarga atau wakil keluarga dari calon pengantin laki-laki biasanya mempersiapkan wakil keluarga yang akan menyampaikan silsilah keluarga, jika pihak keluarga pengantin wanita menanyakan tentang silsilah keluarga calon pengantin laki-laki. Mengungkap silsilah keluarga berguna untuk menghindari adanya hubungan sedarah antara calon pengantin laki-laki dan calon pengantin wanita, sehingga apabila hal itu terjadi pernikahan tersebut dapat dicegah sebelum dilangsungkannya upacara pernikahan.

Acara memadik menggunakan upakara. Adapun upakara yang dibawa pada waktu memadik (meminang), antara lain:
a.       Pejati, sebagai upakara pesaksi untuk dihaturkan di pemerajan calon pengantin perempuan
b.      Canang pangraos, ditambah dengan segehan putih kuning asoroh.
c.       Pagemelan (rarapan) atau saserahan.

Jenis dan jumlah saserahan ini tergantung pada kesiapan, keseriusan, dan ketulusan keluarga calon pengantin laki-laki. Seserahan dapat berupa berbagai macam kue, buah-buahan, dan pakaian (pasaluk).

4. PENJEMPUTAN CALON PENGANTIN WANITA

Apabila calon pengantin wanita tidak diboyong pada saat memadik, maka acara berikutnya adalah penjemputan calon pengantin wanita oleh calon pengantin pria. Pada hari ini calon pengantin pria diikuti oleh anggota keluarga beserta unsur-unsur prajuru seperti ketua banjar, dan sesepuh datang ke rumah keluarga calon pengantin wanita untuk menjemput calon pengantin wanita. Pada hari ini umumnya pihak calon pengantin pria membawa upakara berupa:
a.       Upakara mamerasan berupa: (1) Pejati asoroh, (2) Canang burat mangi lengawangi, (3) Segehan putih kuning asoroh, dan (4) Canang Pangerawos
b.      Sarana sebagai Penukar Air Susu dan alas rare (aled rare) berupa: (1) Basan buat, (2) Kain saparadeg, (3) Gelang, kalung, pupuk, dan (4) Handuk.
c.       Upakara Pengungkab Lawang (jika dilakukan) berupa: (1) Pejati dan suci alit, (2) Peras pengambean, (3) Caru ayam brumbun asoroh, (4) Bayekawonan , (5) Prayascita, (6) Pangulapan, (7) Segehan panca warna, (8) Segehan seliwah atanding, dan (9) Segehan agung.
Pengungkab lawang merupakan tatanan pelaksanaan perkawinan pada waktu menjemput calon pengantin wanita ke rumahnya. Ngungkab lawang merupakan acara untuk mempertemukan pertama kali calon pengantin pria dengan calon pengantin wanita. Acara ngungkab lawang hanya dilakukan pada upacara perkawinan tingkat utama (Meminang/memadik).

Tujuan dari acara ngungkab lawang adalah untuk menghormati keluarga calon pengantin wanita oleh keluarga calon pengantin pria sehingga hubungan kedua calon pengantin akan semakin harmonis, selaras dan serasi,

Ngetok lawang diawali dengan mengucap- kan pantun oleh calon pengantin pria atau yang mewakilinya dari luar dan selanjutnya dibalas dengan pantun juga oleh calon pengantin wanita atau yang mewakilinya dari dalam gedong. Pantun diucapkan saling bersautan. Setelah calon pengantin wanita selesai mengucapkan pantun, lalu calon pengantin pria menjemputnya dengan mengetok pintu gedong tiga kali, maka keluarlah calon pengantin wanita. Untuk memastikan apakah benar wanita yang dimaksud maka calon pengatin pria membuka kerudung calon pengantin wanita. Selanjutnya dilakukan pertemuan ibu jari tangan kanan calon pengantin pria dengan ibu jari tangan kanan calon pengantin wanita dan disertai dengan doa oleh orang yang ditunjuk oleh pihak calon pengantin Wanita:


DOANYA SBB:

Om suddhah puta yosito yajniya ima.
Brahmanam hastesu pra prthak sadayami   
 ( atharwaweda XI.I.27)                          

Om sumangalir iyam vadhur
Imam sameta pasyata
Saubhagyam asyai dattvaya
Athastam vi paretana ( Rgweda X.85.33)


Artinya :
Atas Restu Hyang Widdhi. Kami berikan gadis yang murni, yang berbudi luhur dan yang suci ini kepada Orang Bijak yang berpengetahuan tinggi

Hyang Widdhi. Penganten Wanita ini sangat beruntung.  Wahai penganten Pria yang lembut datanglah dan pandanglah dia. Berkatilah dia dengan keberuntungan dan berangkatlah kerumahmu.

Setelah itu Sarana upakara yang dibawa oleh pihak penganten pria dijalankan. Kedua calon pengantin dibiyakala dan prayascita.
Selesai melakukan biyakala dan prayascita dilanjutkan dengan mengucapkan sumpah perkawinan :



SUMPAH PERKAWINAN :
                                           
                                                SMARA STAVA                                                 
 (dibaca oleh penghulu nikah)

Om pranamya ta sang hyang smaram, 
prabodham asta kamas te                                         
saha smara samara devi,                                     
misrosadhi suksma jnanam

Om stutis tribyandvana purve,                          
mama kayo ’gneyasanam                                               
daksine janma yauvanam,                                                        
dharmavata nairrtitah
Pascime ca yauvanam ca,                                
stri mado vayavyam                                                   
uttare maro rathas ca,                                      
airsanyam tu bandhah sthitah
Ity ete smara puja ca,                                                          
nara suranugrahas                                                       
tirupam surupam viryam, 
prasiddhottama yauvanam

Om om sang hyang smara deva puja ya namah svaha
Om ihaiva stam ma vi yaustam,                                  
visvam ayur vyasnutam,                              
kridantau putrair naptr bhih, modamanau sve grhe

Om samanjantu visve devah,                                    
 sam apo hrdayani nau 

UNYUK  PENGANTIN PRIA UCAPKAN :
WAHAI MEMPELAI WANITA: (Sebut Namanya). DI HADAPAN HYANG WIDHI DAN PARA SAKSI SAYA GENGGAM TANGANMU BAGI KEMAKMURAN. SEMOGA ENGKAU DAPAT MENJADI PENDAMPING HIDUP SAYA SEBAGAI ISTRI SAMPAI AKHIR HAYAT.

UNTUK PENGANTIN WANITA UCAPKAN :
DI HADAPAN HYANG WIDHI DAN PARA SAKSI SAYA BERDOA SEMOGA ENGKAU; SUAMI SAYA: (Sebut Namanya) SEMOGA BERUSIA PANJANG DAN DAPAT HIDUP BERSAMA SAYA DENGAN  PENUH SETIA SAMPAI AKHIR HAYAT

UNTUK PENGANTEN PRIA LAGI UCAPKAN JANJI SBB:

MAMEYAM ASTU POSYA,
MAHYAM TVADAD BRHASPATIH,
MAYA PATYA  PRAJAVATI,
SAM JIVA SARADAH SATAM       
 (Atharvaveda xiv.1.52)

“Engkau istriku, yang dianugrahkan Hyang Widdhi kepadaku, aku akan mendukung dan melindungimu. Semoga engkau hidup berbahagia bersamaku dan anak keturunan kita sepanjang masa”.

KEMUDIAN PENGHULU MEMBACAKAN MANTRA BERIKUT :

Samrajni svasure bhava,                                
 samrajni svasrvam bhava,                           
 nanandari samrajni bhava,                          
 samrajni adhi devrsu
 (Rgveda x.85.46)

Yantri raad yantri asi yamani,                              
 dhruva- asi dharitri 
(Yajurveda XIV.22)

Virasup devaakaamaa syonaa,
 sam no bhava dvipade,  Sam catuspade                                                         
 (Rgveda x.85.43)

“Wahai mempelai wanita, jadilah nyonya rumah tangga yang sesungguhnya, dampingilah (dengan baik) ayah ibu mertuamu, dampingilah (dengan baik) saudara saudari iparmu”.
                                                                                         
 “Wahai mempelai wanita jadilah pengawas keluarga yang cemerlang, tegakkanlah aturan keluarga, dan jadilah penopang keluarga”.
                                                                    
“Wahai mempelai wanita, lahirkanlah keturunan yang cerdas, gagah, dan berani, Bersembahyanglah selalu kepada  Hyang Widdhi, jadilah insan yang ramah dan menyenangkan kepada semua orang, dan peliharalah dengan baik hewan  peliharaan ( harta benda)  keluarga”.

Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan surat-surat nikah oleh kedua mempelai dan saksi-saksi. dilanjutkan dengan memberikan  Nasehat Perkawinan :
1, Oleh Ketua Adat
2. PHDI
3. Keluarga kedua Mempelai

Setelah semua berkas pernikahan ditandatangani. Dimohonkan kepada semua hadirin mengucapkan doa sebagai berikut ( dipimpin oleh penghulu/Juru Nikah ):

DOA BERSAMA NIKAH

Om ihena vindra sam nuda vakavakeva dampati
Om sam jaaspatyam suyamam astu devah
(rgveda x. 85. 23)
om asthuuri no gaarhapatyaani santu (rgveda vi. 15. 19)
om ihaiva stam maa vi yaustam, visvaam aayur vyasnutam, kriidantau putrair naptrbhih, modamaanau sve grhe (rgveda x. 85. 42)

Om.....sang Hyang Widdhi, persatukanlah kedua mempelai ini Laksana Burung Chakrawaka tidak pernah berpisah dengan pasangannya

Hyang Widhi, semoga kehidupan pernikahan ini tenteram dan bahagia.
Semoga hubungan suami-istri ini tidak pernah putus dan berlangsung selamanya.
Semoga pasangan suami-istri ini tetap erat dan tak pernah terpisahkan, mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, tinggal di rumah dengan hati gembira, dan bersama bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu

Setelah acara seremonial nikah selesai dilanjutkan di Pemerajan untuk melakukan persembahyangan memohon doa restu dari Sang Hyang Guru dan para leluhur pihak pengantin wanita. Selesai sembahyang, dilanjutkan dengan sembah sungkem kepada kedua orang tua calon pengantin wanita untuk mohon doa restu. Sembahyang di pemerajan merupakan acara mepamit secara niskala yaitu kepada leluhur, sedangkan mepamit secara sakala adalah mohon doa restu dari kedua orang tua.

Dirumah Penganten Pria diadakan lagi UPACARA PERKAWINAN (WIWAHA SAMSKARA)   seperti urut-urutan dibawah.



A.CARA MERANGKAT/NGEROROD

Pernikahan secara Ngerorod/Merangkat, seluruh ritual dan administrasi Nikahnya dilakukan dipihak mempelai Pria. Adapun urut-urutannya sbb :

DIRUMAH MEMPELAI PRIA

Sesampainya di depan pintu gerbang rumah calon pengantin pria. Kedua mempelai diberikan segehan putih kuning, sebagai sarana penetralisir kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif, karena posisi kedua calon pengantin secara spiritual adalah dalam kekuasaan kama.

Setelah kedua pengantin masuk ke halaman rumah, diantar ke depan dapur untuk melaksanakan penyucian kecil, yaitu diperciki tirta pabayekaonan, maprayascita dan terakhir ngayab upakara peras pengambean dan dapetan. Maksud penyucian ini adalah penyucian pertama dari sebel kandelan pengantin.

5.  UPACARA PERKAWINAN (WIWAHA SAMSKARA)  DI RUMAH PENGANTEN PRIA

Urutan pelaksanaan upacara perkawinan umat Hindu adalah sebagai berikut:

a.  Sarira Samkara (Upacara makala-kalaan)

Upacara makala-kalaan bertujuan untuk penyucian diri, upacara ini ditujukan kepada bhūta kala, di mana kala ini merupakan manifestasi dari kekuatan kama yang memiliki sifat keraksasaan.Kedua penganten dipersonifikasikan sebagai kekuatan kala dan kali yang disebut kala nareswari. Upacara makala-kalaan juga disebut upacara bhūta saksi.

Menurut kitab suci upacara makala-kalaan yang ditujukan kepada para bhūta yang dihaturkan di atas tanah termasuk dalam prahuta.  Tujuan dari upacara makala-kalaan adalah untuk menghilangkan segala mala dan menyucikan sukla dan swanita. Selain itu upacara makala-kalaan adalah upacara penyucian kedua pengantin dari segala mala atas perintah Dewa Śiwa.

Selanjutnya upacara makala-kalaan selain bersaksi kepada bhūta kala, juga bersaksi kepada Pertiwi.

Dalam pelaksanaan upacara makala-kalaan digunakan beberapa uparengga (peralatan) sebagai pelengkap upacara. Uparengga yang dipergunakan pada upacara makala-kalaan memiliki fungsi adalah sebagai bahasa isyarat kehadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya serta mengandung nilai-nilai ethika yang sangat tinggi dan dalam. Adapun uparengga yang dipergunakan adalah:
      1.      Sanggah Surya,
      2.      Kalabang Kala Nareswari (Kala Badeg),
      3.      Tikeh dadakan (tikeh kecil),
      4.      Benang putih,
      5.      Tegen-tegenan,
      6.      Suhun-suhunan (sarana junjungan),
      7.      Sapu lidi tiga katih ,
      8.      Sambuk (serabut) kupakan,
      9.      Kulkul  berisi berem
      10.  Tetimpung

Dalam rangkaian upacara makala-kalaan ada sarana yang dipergunakan yaitu tetimpug yang dibuat dari tiga buah potong bambu yang masing-masing ada ruasnya, yaitu  lima ruas atau tujuh ruas. Ketiga potong bambu ini diikat jadi satu kemudian dibakar di atas tungku bata yang dibuat pada saat upacara makala-kalaan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah secara niskala untuk memanggil para bhūta kala bahwa upacara segera dimulai.

Kedua pengantin duduk menghadapi upakara dengan posisi duduk pengantin wanita berada di sebelah kiri pengantin pria, kemudian kedua penganten natab banten bayakawonan, dilanjutkan dengan malukat dan maprayascita sebagai pembersihan. Selesai natab bayakawonan dan pembersihan kedua pengantin menuju ke tempat mategen-tegenan. Penganten pria memikul tegen-tegenan sambil membawa sapu lidi tiga biji, sedangkan pengantin wanita menjunjung suhun-suhunan  berjalan mengelilingi sanggah surya ke arah purwa daksina (arah jarum jam) dengan posisi penganten wanita di depan mengelilingi sanggah surya sebanyak tiga kali, dan  penganten pria mencemeti penganten wanita. Pada setiap putaran, kedua pengantin menendang serabut kelapa (kala sepetan) yang di dalamnya berisi telor, ditutupi dengan serabut kelapa dibelah tiga dan diikat dengan benang tridhatu. Setelah makala-kalaan serabut kelapa tersebut ditaruh di bawah tempat tidur pengantin.

Acara selanjutnya adalah madagang-dagangan. Pada saat madagang-dagangan penganten wanita duduk di atas serabut kelapa, mengadakan tawar menawar hingga terjadi transaksi antara pengantin pria dan pengantin wanita yang ditandai dengan penyerahan barang dagangan serta pembayarannya. Akhir dari madagang-dagangan adalah merobek tikeh dadakan yang dipegang oleh pengantin wanita dengan kedua tangannya, dan pengantin pria mengambil keris kemudian merobek tikeh dadakan tersebut yang diawali dengan menancapkan keris ke tikeh dadakan dan dilanjutkan dengan mengambil tiga sarana kesuburan yaitu keladi, kunyit, dan andong, yang kemudian dibawa oleh kedua pengantin ke belakang sanggah kemulan untuk ditanam.

Acara selanjutnya adalah mapegat, yaitu memutuskan benang yang kedua ujungnya diikatkan pada dua cabang pohon dapdap. Selesai memutuskan benang kedua penganten kemudian mandi untuk membersihkan diri. Mandi untuk membersihkan diri ini disebut ”angelus wimoha’, yang memiliki pengertian dan tujuan untuk melaksanakan perubahan nyomya dari kekuatan asuri sampad menjadi kekuatan Daiwi sampad atau nyomya kala bhūta nareswari agar menjadi Sang Hyang Smarajaya dan Smara Ratih. Sehabis mandi kedua penganten berganti pakaian, dan berhias untuk melakukan upacara dewa saksi di sanggah.

b.  Upacara Widhi Widhana / Majaya-Jaya

Upacara widhi widhana/majaya-jaya dilakukan setelah selesai melaksanakan upacara makala-kalaan.

Rangkaian upacara widhi widhana /majaya-jaya ini diawali dengan puja yang dilakukan oleh sang pemuput upacara (Pandita/Pinandita). Setelah sang pemuput upacara selesai mapuja dilanjutkan dengan persembahyangan yang dilakukan oleh kedua pengantin. Sebelum melakukan persembahyangan kedua pengantin diperciki tirta panglukatan dan dilanjutkan dengan tirta prayascita. Persembahyangan diawali dengan puja trisandya, kemudian dilanjutkan dengan panca sembah.

Selesai sembahyang kedua pengantin diperciki tirtha pekuluh dari pemerajan atau pura-pura, dan dilanjutkan dengan memasang bija. Selesai sembahyang dilanjutkan dengan natab banten sesayut (sesayut nganten).

Selesai natab banten sesayut, kedua pengantin diberikan tetebus (benang) dan dipasangkan karawista. Selesai memasang-kan bija dan karawista dilanjutkan dengan mengucapkan sumpah perkawinan oleh kedua mempelai. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan surat-surat nikah oleh kedua mempelai dan saksi-saksi.
Acara selanjutnya Nasehat Perkawinan : Oleh Ketua Adat, Saksi PHDI dan Keluarga kedua Mempelai. Setelah semua berkas pernikahan ditandatangani. Dimohonkan kepada semua hadirin mengucapkan doa                        (   Sumpah perkawinan dan doa perkawinannya sama dengan Sumpah dan doa yang diucapkan dalam perkawinan dengan  tata cara Memadik/Meminang. Yang membedakan adaalah  tidak ada doa mengungkap lawang/Doa restu dari pihak mempelai wanita saat mempelai wanita dipertemukan untuk diboyong oleh mempelai Pria


PENUTUP

Dengan demikian selesailah rangkaian upacara perkawinan tersebut. 

c.  Majauman

Majauman merupakan rangkaian terakhir dari upacara perkawinan umat Hindu etnis Bali. Majauman merupakan kunjungan resmi yang bersifat religius dari pihak pengantin pria ke rumah pengantin wanita yang dilakukan setelah melaksanakan upacara pernikahan (dewa saksi).  

Majauman jika dilihat dari dasar kata ”jaum” di mana fungsi jaum atau jarum adalah untuk merajut atau menyatukan kembali, maka makna majauman dalam rangkaian upacara perkawinan adalah untuk menyatukan kembali dua buah keluarga yang bersitegang (biasanya karena salah satu pihak keluarga tidak merestui karena perbedaan soroh/wangsa/kasta, sehingga diambil cara pernikahan ngerorod/ merangkat). Majauman biasanya dilakukan apabila kedua penganten ngarorod/ merangkat.  Arti mejauman adalah menyatukan kembali dua buah keluarga yang tadinya retak atau marah akibat anak gadisnya dilarikan oleh calon pengantin pria.

Majauman juga berarti memberitahukan kehadapan Hyang Guru dan para leluhur dipihak penganten wanita (karena sebelum nya tidak sempat pamit dan tergesa-gesa kabur ne yeee)  bahwa kedua pengantin telah menyatu dalam sebuah upacara perkawinan, serta mohon doa restu agar selalu melindungi perkawinan atau rumah tangga kedua pengantin, sehingga selalu dalam keadaan harmonis.



CATATAN :

Kebiasaan pernikahan selama ini di Bali seluruhnya dilakukan di rumah mempelai Pria, karena biasanya pernikahannya dilakukan secara Ngerorod/Merangkat. Sehingga pihak mempelai wanita sangat pasif. Di era yang makin maju, dimana pernikahan antara kedua mempelai sudah mendapat restu kedua orang tua, sebaiknya pernikahan dilakukan dengan cara meminang/memadik. Tradisi merangkat/ ngerorod dijaman dahulu dilakukan untuk mensiasati kakunya sistem soroh/wangsa atau kasta. Pernikahan dengan system Ngerorod/Merangkat sangat merugikan pihak wanita, Karena hak-hak keperdataan nya (perlindunganh hukumnya sangat lemah). Di jaman kini dimana pemahaman umat terhadap sastra Weda sudah semakin baik, dan hak-hak wanita makin mendapatkan tempat yang layak sesuai amanat kitab suci, maka sebaiknya  pernikahan dilakukan saat mempelai wanita mau diboyong ke rumah mempelai pria (dengan catatan :  semua banten Biyakaonan dan Prayascita dibawa oleh pihak mempelai Pria ) dan sekaligus akad Nikahnya/ administrasi ( surat-surat )  nikahnya  diselesaikan sebelum mempelai Wanita diboyong oleh mempelai Pria, dengan maksud supaya mempelai wanita  mempunyai kedudukan hukum yang semestinya. Dalam hal ini acara ngungkab lawang diutamakan sehingga pada saat mempelai wanita meninggalkan rumah orang tuanya, secara niskala dan sekala sudah dalam keadaan bersih dan secara hukum keperdataan (Hukum Negara) juga sudah terjamin. Dan sekaligus merupakan bentuk penghormatan pihak mempelai pria kepada pihak mempelai Wanita
Peralatan Mekala-kalaan dan symbol upacara adat perkawinan Bali
  • Sanggah Surya/bambu melekung merupakan niyasa (simbol) istana Sang Hyang Widhi Wasa, ini merupakan istananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih. Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih dewi kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.
  • Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg) simbol calon pengantin yang diletakkan  sebagai alas upacara mekala-kalaan serta diduduki oleh kedua calon pengantin.
  • Tikeh Dadakan (tikar kecil) Tikar yang diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikar adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni).
  • Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.
  • Benang Putih dibuatkan sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm. Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut. Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.
  • Tegen – tegenan Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala. Adapun Perangkat tegen-tegenan ini :
  1. Batang tebu berarti hidup pengantin mengandung arti  kehidupan dijalani secara bertahap seperti hal tebu, ruas demi ruas, secara manis.
  2. Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma.
  3. Periuk simbol windhu.
  4. Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi).
  5. Seekor yuyu/kepiting simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.
  • Suwun-suwunan (sarana jinjingan) Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.
  • Dagang-dagangan melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.
  • Sapu lidi (3 lebih). Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna berdasarkan ucapan, prilaku dan pikiran yang baik. Disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
  • Sambuk Kupakan (serabut kelapa). Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian.Telor bebek simbol manik. Kedua Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Ini mengandung pengertian Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan triguna dapat terkendali.
Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.
  • Tetimpug adalah bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.
          •  
          •  
          •  
          • MATUR SUKSME


                                Sumber bacaan : Dari berbagai sumber

Artikel lainnya :