Rabu, 17 April 2013

Pengurus PHDI Kab.OKU mengadakan dharmatula dengan Umat Hindu Amertha Sari

Pada kesempatan piodalan tersebut pengurus adat Desa Amerthasari Lubuk Rukam menghadirkan pengurus PHDI Kabupaten OKU. Tampak hadir pada piodalan tersebut diantaranya Wayan Sandia (Ketua), Gede Darna SH (Ketua Paruman Walaka) Gede Suardika Yasa S.PdH. Dr. Nyoman Mudiarcana, Wayan Sukla S.Pd. Wayan Tunastra S.Pd.

Dharma wacana disampaikan oleh Dr. ING. Mudiarcana dengan judul dharmawacananya : BEKAL KE SORGA, yaitu dengan menyampaikan empat hal yang harus dikerjakan oleh umat Hindu dan tidak boleh ditinggalkan yaitu : Yadnya, Dana, Tapa dan Karma, yang dikutip dari Bhagawad Gita  adhyaya XVIII seloka 5.

Perintah-perintah Weda harus dilaksanakan karena Weda disabdakan lansung  oleh Hyang Widdhi seperti kata beliau dalam Kitab suci Bhagawad Gita XV.15 : Wedantakrid wedawid ewa ca'ham yang artinya Akulah pencipta Weda dan Aku mengetahui isi Weda, jadi kata-kata didalam Weda bukan buatan Manusia. Tetapi Sabda suci dari Hyang Widdhi yang harus dipakai pedoman oleh seluruh umat Manusia.

Selama ini umat Hindu, khususnya yang ada di bali lebih mengutamakan upacara Yadnya, sementara tiga hal lainnya yaitu Danapunia, Tapa atau pengendalian diri, serta karma mendapat porsi yang sedikit, sepantasnyalah dijaman kaliyuga ini Danapunia mendapat porsi utama seperti tertuang dalam Manawa Dharmasastra I.86 berikut :

Tapah para kertayuge, Tretayam Jnana mucyate, Dvapare yadnyavairvahur, Daana mekam kali yuge yang artinya : Pada jaman Kretayuga puncak beragama dengan Tapa, pada jaman Treta dengan Jnana, Upacara Yadnya pada jaman Dwapara, sedangkan pada jaman Kaliyuga dengan Daanapunia.

Sekarang ini ada pada jaman Kaliyuga sehingga sepantasnyalah perhatian umat Hindu lebih fokus pada berdanapunia, yaitu untuk kemajuan kesejahteraan bersama dan kecerdasan umat manusia.

Setelah acara persembahyangan selesai dilanjutkan dengan Dharmatula di wantilan pura yang dipandu oleh Gede Suardika Yasa S.pd.H. dengan nara sumber diantaranya Wayan Sandia, Gede Darna SH, Wayan Tunastra S.Pd. dan Wayan Sukla S.Pd. dengan dihadiri oleh umat Hindu warga Amerta Sari. Sedangkan Dokter Nyoman Mudiarcana yang bersemangat ingin begadang/mekemit dipura terpaksa membatalkan niatnya dan harus memacu kendaraannya cepat-cepat menuju Klinik tempatnya membuka praktek karena pangilan Profesinya yang tidak bisa ditunda.

Menurut berbagai sumber di masyarakat, acara-acara seperti ini hendaknya menjadi program tetap dari PHDI diseluruh Indonesia, yaitu selalu hadir pada setiap piodalan di masing-,asing Desa Adat. dan umat dibeli pembekalan tentang tatwa keagamaan supaya menjadi umat Hindu yang tangguh dalam arti mempunyai keyakinan yang mantap berdasarkan pengetahuan keagamaan yang kuat, bukan menjadi Hindu karena kebetulan lahir di lingkungan orang Bali/Hindu atau menjadi Hindu karena alasan tradisi atau adat semata-mata.

Dengan berbekal Tatwa yang kuat, umat menjadi takut untuk ingkar terhadap perintah Weda. yang selama ini menurut pengamatan, lebih takut pada sangsi Adat dari pada sangsi akibat tidak menjalankan perintah Hyang Widdhi, akibat ketidak tahuan umat akan isi kitab sucinya. Apalagi kebiasaan para pedarma wacana umat lebih banyak mengutip Lontar-Longtar tanpa dibandingkan dengan kitab Aslinya yaitu Weda.

Lontar ditulis oleh orang-orang Suci bijaksana dan pintar, tetapi yang namanya manusia tidak ada yang sesempurna Hyang Widdhi, sehingga bisa saja lontar-lontar itu memuat unsur-unsur subyektifitas penulisnya,. sehingga sepantasnyalah harus dicarikan pembandingnya dengan kitab suci Weda. Salah satu lontar yang memuat unsur subyetifitas penulisnya adalah lontar yang bernama Widhisastra saking niti danghyang Nirartha, sehingga lontar seperti ini perlu dikoreksi, ibaratnya didalam dunia keilmuwan kalau ada pendapat ahli/profesor/gurubesar yang pada masanya masuk akal dan sesuai dengan jamannya, kemudian ditemukan pendapat lain yang lebih valid dan sesuai untuk jaman ini maka biasanya pendapat yang tidak sesuai lagi akan dengan sukarela ditinggalkan dan digantikan dengan oendapat baru yang belum terbantahkan.



PHDI OKU Dalam Foto




Gede Darna SH dan Gede Suardika Yasa S.Pd.H
Wayan Sandia (berjas merah) bersama Wayan Tunastra S.Pd.



Jero mangkus Agus  bersama dr. ING Mudiarcana
Pak Made Suweta Kelian Adat Mekarsari




Rabu, 10 April 2013

Ular Dewa Wisnu muncul di Mamuju

Berita dikirim oleh : Guli Mudiarcana


Ular Cobra berkepala 7 menghebohkan masyarakat Mamuju Sulawesi Barat. Ular Cobra berkepala 7 dengan panjang lebih kurang 3 m sedang memekarkan kepalanya ditemukan dipinggir jalan di Mamuju.

Ular itu mirip mitologi atau ceritra Sri Krisna kecil yang ditayangkan Bali TV dan MNCTV beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, dalam Riwayat Krisna kecil, dikisahkan bahwa sewaktu Bayi Krisna diseberangkan melewati sungai Yamuna yang sedang meluap diserta hujan badai, datang ular cobra berkepala banyak menaungi/memayungi bayi kecil Sri Krisna dari kehujanan.

Ular Cobra berkepala banyak juga merupakan pijakan kaki Sri Krisna sewaktu Sri Krisna mengambil bola teman-temannya yang jatuh di sungai.

 Munculnya ular berkepala 7 yang memekarkan kepalanya, menghebohkan facebook



FOSTINGAN LAINNYA

  



Umat Hindu Mekar Sari BTM XI Membangun Pura

Ketua PHDI Kab. Oku I Wayan Sandia didampingi Wakil Ketua PHDI OKU Dr. I Nyoman Mudiarcana, mengantarkan Doser kepada masyarakat mekar sari Batumarta XI, Sinar Peninjauan.
Doser itu dipergunakan untuk meratakan areal yang rencananya akan di bangun pura.

Umat Hindu mekar Sari merupakan pemekaran umat Hindu Batumarta unit XI yang terpisahkan secara administratip pemerintahan. Sebagian Umat Hindu Unit XI masuk wilayah kecamatan Sinar peninjauan dan sebagian yang berada didalam masuk kelurahan Lubuk Rukam kecamatan Peninjauan. Kedua desa adat tersebut sebelumnya  tergabung dalam satu desa adat.

Doser itu merupakan hasil lobi bpk Wayan Sandia kepada pihak swasta pemilik Doser sehingga dengan biaya yang sangat minimal (Rp. 250.000/jam) dapat menoperasikan doser tersebut untuk pematangan areal yang rencananya akan dibangun pura.

Pada foto diatas tampak Ketua PHDI OKU bpk Wayan Sandia sedang berbincang serius dengan Ketua/Kelihan Adat Desa Mekar sari Bpk Made Suweta (Pak Ndut) di lokasi rencana pembanguna pura.

Doser tersebut biasanya disewakan Rp 750.000/jam, tetapi berkat lobi bpk Wayan Sandia yang mempunyai relasi cukup luas dikalangan Pemda OKU maupun dengan pihak Swasta di OKU akhirnya disepakati Rp 250.000/jam, karena untuk kepentingan sosial.


Wakil Ketua PHDI OKU dr. I Nyoman Mudiarcana) bersama bapak Ketua Adat Mekar Sari Bpk Made Suweta