|
Kata Pengantar
Buku pelajaran sejarah untuk kelas XB terbitan Viva Pakarindo, Klaten
Jawa Tengah pada halaman 38 menulis sebagai berikut :
Di India, sistem kasta lahir dan berkembang bersamaan dengan munculnya
agama Hindu. Ketika agama dan Kebudayaan Hindu mulai berkembang di
Indonesia, sistem kasta tidak berlaku mutlak seperti di India. Masyarakat
Hindu Indonesia mengenal sistem kasta dalam ajaran agamanya, tetapi tidak
menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan sistem kasta dengan
keadaan masyarakat Indonesia.
Dalam penyusunan materi buku sejarah
tersebut, penulis mengaku menggunakan sumber literatur yang sesuai dengan
kurikulum KTSP 2006 diantaranya dari :
1.
Wawasan Sejarah 1 Indonesia dan
Dunia Kelas X SMA dan MA, dengan pengarang Shodiq Mustafa, Terbitan Tiga serangkai, Solo,
2007...halaman 96.
2.
Mandiri (Mengasah Kemampuan
Diri) Sejarah SMA/MA Kelas X, pengarang Leo Agung dan Dwi Ari Listiyani,
Terbitan Erlangga, Jakarta, 2009..halaman 60”
|
|
|
Di Indonesia Kasta tidak pernah ditemukan sampai akhir kerajaan
Hindu Majapahit abad 14 akhir. Kasta baru ada di Indonesia setelah
kerajaan Hindu Majapahit runtuh.
Bukti-bukti sejarah Kasta tidak ada di Indonesia semasa kerajaan Hindu
diantaranya sebagai berikut :
1.
Mpu Sendok, seorang Brahmana, anak-anaknya menjadi Ksatrya di Medang
Kemulan
2. Ken Arok, seorang penyamun di hutan-hutan Jawa Timur, dari keluarga yang
bukan ksatrya ataupun brahmana. Bisa menjadi Raja (ksatrya) di Singosari.
3.
Mahapatih Gadjah Mada, Perdana menteri Majapahit, lahir dari keluarga yang
tidak
4.
diketahui ( bukan dari keluarga atau keturunan Ksatrya maupun Brahmana), Kemudian menjadi Ksatrya terkemuka
Indonesia sepanjang sejarah Indonesia.
5.
Damar Wulan, Seorang pengangon kuda ( tukang arit rumput ), kemudian bisa menjadi Raja (Ksatrya) di
Majapahit dan berganti nama menjadi Brawijaya.
6.
Kebo Iwa, tukang gali tanah dan tukang membuat sumur, berkat keperkasaannya
bisa menjadi Patih (Ksatrya) di Bali pada masa Raja Ratna Bumi Banten.
7.
Ketut Kresna Kepakisan, anak seorang Brahmana dari Jawa Timur, menjadi
Adipati (Ksatrya) di Samprangan Bali dengan gelar Sri Kresna Kepakisan.
8.
Patih Ulung, ayahnya seorang
Mpu/ Brahmana, warga pasek sanak
pitu, bisa menjadi Patih/Ksatrya.
9.
Arya Tatar
- pejabat kerajaan Singosari,
keponakan Kendedes. Ayah nya seorang Mpu/Brahmana - warga Pasek Sanak Pitu,
bisa menjadi Ksatrya membantu bibi dan pamannya.: Ken Arok-Ken Dedes. Arya Tatar di Bali menurunkan Pasek Pidpid dan Pasek Bale Agung
Buleleng yang menurunkan Ir. Soekarno
10.
I Gusti Agung Pasek Gelgel, katurunan seorang Mpu/Brahmana, bisa menjadi
Ksatrya yaitu menjadi Raja Bali (1345-1352 M), sebelum Kresna Kepakisan diangkat sebagai raja Bali.
Apa kasta seorang Perampok/ Bromocorah?, Apa Kasta
seorang Pengangon Kuda?, Apa Kasta seorang tukang gali Sumur?. Ken Arok, Gadjah Mada, Damar Wulan maupun
Kebo Iwa jelas bukan berasal dari kasta Brahmana, bukan Ksatrya, bukan pula
Wesya. Tetapi bisa menjadi Ksatrya berkat proses belajar dan keterampilan yang
dimilikinya. Bukan karena keturunan.
Kasta mulai ada di Indonesia
setelah runtuhnya Majapahit dan terpengaruhnya pemikiran para “Brahmana” oleh
pemikiran kaum Indologis.
Di Indonesia Kastaisme mulai menyebar setelah
Runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit tahun 1478 M, hampir berdekatan waktunya
dengan jatuhnya kerajaan Goa di India oleh Portugis tahun 1511, serta Era
penyebaran konsep-konsep agama Kristen (Kristenisasi) ke-seluruh dunia yang
ditandai dengan Kolonialisasi dan perbudakan.
Pada akhir masa Majapahit terutama awal abad ke 15
, kastaisme mulai menyebar. Banyak Ksatrya, Cendekiawan maupun Brahmana Hindu mulai terpengaruh
propaganda misionaris Kristen dan
kaum Adharma lainnya. Mereka melupakan swa-dharmanya sebagai ksatrya dan brahmana tergoda oleh Harta Kuasa dan
Wanita.
Raja Majapahit Kertabumi ( 1456-1478 ) yang sudah
tua renta tergoda wanita hadiah para Wali. Wanita yang tidak jelas asal-usulnya
selalu membujuk Kertabumi untuk meninggalkan agama Hindu agama leluhur
Majapahit dan ikut agama Istrinya.
Di Jawa Barat, Raja Pajajaran Prabu Siliwangi
terbujuk rayuan Nyai Subang Larang, yang
kemudian bersama keturunan-nya menentangnya, sehingga Sang
Prabu harus melarikan diri dari Istananya dan hidup terlunta-lunta menyamar
sebagai Anak Angon (gembala) hidup di hutan.
Para Brahmana dan cendekiawan tersesatkan oleh
pemikiran-pemikiran baru dari Eropa dan Arab, mereka mengadopsi konsep-konsep kasta
dan perbudakan tanpa dinilai secara kritis. Parahnya lagi, para Brahmana lebih
banyak berkumpul disekitar keraton, guna melegitimasi kebijakan raja menjadi Bhagawanta Kerajaan. Akhirnya rakyat tertinggal dibidang tattwa keagamaan nya,
sehingga dengan mudah di Konversi dan jadi jajahan asing. Majapahit-pun runtuh
tahun 1478, diikuti oleh Pajajaran, dan pusat pemerintahan dilanjutkan oleh
Demak Bintoro.
Pada masa pemerintahan Demak dan Mataram Islam,
Kasta makin tumbuh subur di tanah Jawa. Gelar tokoh agama di Jawa/
Indonesia seperti ; KH,Habib,Abu, Syekh dll. Dan Bangsawan Jawa makin
beraneka ragam, seperti : R. RA.
GPA. GPAA. KRT. GKR, GPH. GB, GPB dll. Masyarakat Jawa terkotak-kotak menjadi
kelompok Kiyai, kelompok Habib, kelompok Saudagar, Priyayi dan Wong
Cilik.
Sebelumnya Gelar Bangsawan di Jawa/ Indonesia cukup dipanggil Raden, sedang raja
dipanggil Sri, seperti Raden Wijaya, Sri Wijaya, Sri Dharmawangsa dan tokoh
Agama dipanggil Mpu, seperti Mpu Sendok, Mpu Sedah, Mpu Beradah, Mpu Tantular dll.
Keberadaan Kasta dan perbudakan di Bali
Kehancuran Majapahit tahun 1478, bukannya menjadi
pelajaran bagi umat Hindu di Bali. Seorang pedarmayatra (“pegungsi”) dari Majapahit diangkat menjadi Bagawanta kerajaan
di Gelgel. Beliau adalah Danghyang Nirarta.
Tahun 1489, sebelas tahun setelah Kerajaan
Majapahit Runtuh, Daghyang Nirarta datang ke Bali dengan membawa
ajaran-ajaran yang sudah dipengaruhi oleh peta politik global saat itu (peta
politik global abad 14-16 M ), yaitu konsep kasta-kasta dan perbudakan. Danghyang Nirartha juga melarang anak-anaknya
menyembah patung-patung. (lihat : Bisama Danghyang Nirartha kepada
keturunannya), ini jelas mengadopsi Al Quran yang menganggap patung sebagai
Berhala.
Di Lombok Danghyang Nirarta mengajarkan Islam wetu telu, ajarannya
dapat dilihat dalam geguritan Islam wetu telu, beliau bergelar Haji Duta Semeru, konon entah benar apa tidak beliau sudah pernah
naik haji ke Mekkah dan namanya menjadi Haji
Gureh (Singgih Wikarman,1998). Ada
ceritra kesamaan kemampuan antara Danghyang Nirarta dengan Syekh Siti Jenar -
tokoh sufi (Islam) yang dianggap Murtad oleh para Wali, yaitu sama-sama mampu menghidupkan cacing
jadi manusia.
Menurut Babad Brahmana: “sewaktu Danghyang Nirarta tiba di Bali, terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Putri beliau yang bernama Ida
Ayu Swabawa dicemari dan diperlakukan tidak senonoh oleh penduduk. Mendengar kisah sedih
putrinya tersebut, Danghyang Nirartha berkenaan memberikan ajaran ilmu Rahasya
keparamartaan yang mampu melenyapkan segala dosa. Setelah menerima ajaran itu
Ida Ayu Swabawa lenyap menggaib dan berhasil mencapai alam Dewa, dan di
stanakan di Pura Pulaki sebagai Dewi Melanting
Adapun orang-orang yang menodai Ida Ayu Swabawa dikutuk menjadi wong
Gamang di desa Pegametan”.(Soebandi,1998)
Kisah Ini merupakan upaya pemurtadan terhadap keyakinan agama Hindu, kerena
umat Hindu digiring untuk mengganti peran Dewi Sri Laksmi - Sakti Dewa
Wisnu/Betare Sedana, sebagai Dewa-dewi pemberi kemakmuran dan kesejahteraan, dengan Ida Ayu Subawa seorang anak manusia
yang dinodai oleh penduduk yang tiada lain adalah anaknya sendiri dan kemudin
diperkenalkan kepada umat sebagai Dewi Melanting. .
Selanjutnya dalam Babad tsb juga disebutkan “Ketika Danghyang Nirarta
memberikan ajaran Ilmu rahasya kepada putrinya itu, ternyata didengar oleh insan berwujud seekor cacing kalung, cacing kalung tersebut, tiba-tiba supa (musna) dosa papanya dan seketika menjelma menjadi Manusia perempuan dan diberi nama Nyi Berit”.
Kisah ini mencerminkan sikap “ rasis (kastaisme)” dan sikap “megalomania-nya” si penulis babad Brahmana, karena menggatakan Nyi Berit sebagai Jelmaan Cacing kalung. Karena sejatinya Nyi Berit adalah penduduk Bali yang lebih dahulu menetap di Bali (Bali Age) yang kebetulan hidupnya saat itu kurang beruntung. Sikap rasis dan superior ini ternyata berbuah karma, karena dikemudian hari Nyi Berit ini melahirkan anak dari Danghyang Nirartha.
Dalam babad Brahmana juga ditemukan kalimat : "rambut beliau Danghyang Nirartha di-Stanakan di Pura Kapurancak yang disebut SINIWI DI KAPURANCAK, sehingga Pura tersebut disebut PURA RAMBUT SIWI".
Penyebutan rabut Danghyang Nirartha yang Siniwi di Kapurancak supaya dipuja oleh umat Hindu Bali seluruhnya, mencerminkan kepribadian si penulis Babad yang mencoba mengeser keyakinan Umat Hindu Bali yang semula memuja Betare Rambut Sedana sebagai manifestasi Dewa Wisnu bersama Saktinya Dewi Sri-laksmi, diganti oleh beliau Danghyang Niratha bersama anaknya Ida Ayu Swabawa.
Betare Rambut Sedana merupakan manifestasi Dewa Wisnu didampingi oleh saktinya dewi Sri Laksmi, bertugas memberikan kesejahteraan, kemakmuran dan harta benda kepada para pemuja yang setia memuja beliau setiap hari.
Umat Hindu yang pernah membaca lontar Wawacan Sulanjana atau mendengar ceritra Rakyat Jawa mengetahui bahwa Dewi kesuburan dan kesejahteraan (Dewinya Padi dan Tumbuh-tubuhan bermanfaat) adalah Dewi Sri atau disebut juga Sanghyang Asri. Dewi Sri atau Sanghyang Asri distanakan di Sawah-sawah dan lumbung padi. Jadi yang disebut Dewi Melanting bukanlah Ida Ayu Swabawa melainkan Dewi Sri Laksmi- sakti dari Betare Rambut Sedana (Wisnu). Sedangkan Betare Rambut Sedana adalah nama lain dari Dewa Wisnu yang bertugas memberikan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada para Bhakta-nya.
Kisah ini mencerminkan sikap “ rasis (kastaisme)” dan sikap “megalomania-nya” si penulis babad Brahmana, karena menggatakan Nyi Berit sebagai Jelmaan Cacing kalung. Karena sejatinya Nyi Berit adalah penduduk Bali yang lebih dahulu menetap di Bali (Bali Age) yang kebetulan hidupnya saat itu kurang beruntung. Sikap rasis dan superior ini ternyata berbuah karma, karena dikemudian hari Nyi Berit ini melahirkan anak dari Danghyang Nirartha.
Dalam babad Brahmana juga ditemukan kalimat : "rambut beliau Danghyang Nirartha di-Stanakan di Pura Kapurancak yang disebut SINIWI DI KAPURANCAK, sehingga Pura tersebut disebut PURA RAMBUT SIWI".
Penyebutan rabut Danghyang Nirartha yang Siniwi di Kapurancak supaya dipuja oleh umat Hindu Bali seluruhnya, mencerminkan kepribadian si penulis Babad yang mencoba mengeser keyakinan Umat Hindu Bali yang semula memuja Betare Rambut Sedana sebagai manifestasi Dewa Wisnu bersama Saktinya Dewi Sri-laksmi, diganti oleh beliau Danghyang Niratha bersama anaknya Ida Ayu Swabawa.
Betare Rambut Sedana merupakan manifestasi Dewa Wisnu didampingi oleh saktinya dewi Sri Laksmi, bertugas memberikan kesejahteraan, kemakmuran dan harta benda kepada para pemuja yang setia memuja beliau setiap hari.
Umat Hindu yang pernah membaca lontar Wawacan Sulanjana atau mendengar ceritra Rakyat Jawa mengetahui bahwa Dewi kesuburan dan kesejahteraan (Dewinya Padi dan Tumbuh-tubuhan bermanfaat) adalah Dewi Sri atau disebut juga Sanghyang Asri. Dewi Sri atau Sanghyang Asri distanakan di Sawah-sawah dan lumbung padi. Jadi yang disebut Dewi Melanting bukanlah Ida Ayu Swabawa melainkan Dewi Sri Laksmi- sakti dari Betare Rambut Sedana (Wisnu). Sedangkan Betare Rambut Sedana adalah nama lain dari Dewa Wisnu yang bertugas memberikan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada para Bhakta-nya.
Karena dianggap "Sakti"
dan "mumpuni dibidang agama" pada zamannya maka Danghyang Nirarha diangkat menjadi Bagawanta
kerajaan di Gelgel. Pada saat itu yang menjadi penguasa di Gelgel adalah Dalem Waturenggong (1460-1550 M).
Tidak berapa lama setelah menjabat sebagai Bhagawanta Kerajaan Gelgel, Danghyang Nirarta sang puruhita kerajaan gelgel menerapkan teori RASIS (Kasta) yang sejak semula telah menjadi Ideologinya, dan merestukturisasi masyarakat Bali menjadi berbagai macam kasta.
Dengan mengadopsi DALIL-DALIL WEDA versi kaum misionaris Kristen-Portugis di India maka Catur Warna diadopsi menjadi Catur Kasta ( dari bahasa Portugis : Caste) dan ditetapkan menjadi Awig-Awig (peraturan kerajaan).
Untuk mendukung gagasan-nya membentuk kasta-kasta di Bali, Danghyang Nirarta menuliskannya dalam lontar “ Widhi sastra sakeng niti Danghyang Nirarta” (Singgih Wikarma 1998 : Leluhur orang Bali dari dunia babad dan sejarah. Penerbit Paramita, Surabaya, halaman 63).
Tidak berapa lama setelah menjabat sebagai Bhagawanta Kerajaan Gelgel, Danghyang Nirarta sang puruhita kerajaan gelgel menerapkan teori RASIS (Kasta) yang sejak semula telah menjadi Ideologinya, dan merestukturisasi masyarakat Bali menjadi berbagai macam kasta.
Dengan mengadopsi DALIL-DALIL WEDA versi kaum misionaris Kristen-Portugis di India maka Catur Warna diadopsi menjadi Catur Kasta ( dari bahasa Portugis : Caste) dan ditetapkan menjadi Awig-Awig (peraturan kerajaan).
Untuk mendukung gagasan-nya membentuk kasta-kasta di Bali, Danghyang Nirarta menuliskannya dalam lontar “ Widhi sastra sakeng niti Danghyang Nirarta” (Singgih Wikarma 1998 : Leluhur orang Bali dari dunia babad dan sejarah. Penerbit Paramita, Surabaya, halaman 63).
Ini Lontarnya
itu :
![]() |
Dan ini Terjemahan dari Aslinya :
Semenjak itu munculah Kasta yang dilekatkan kepada
agama Hindu di Bali. Kasta Brahmana yang isinya terdiri dari anak-anak
keturunan Danghyang Nirarta, termasuk juga keturunan yang sebelumnya
dikatakann sebagai “supa-an-cacing kalung”(Nyi Berit), dan anak yang dikatakannya PENYEROAN (asisten rumah
tangganya Bendesa Mas) yang bernama Ni Patapan. Kasta
Ksatrya diberikan kepada keturunan dalem Gelgel, di kecualikan kepada
keturunan Dalem Taruk yang ditetapkan sebagai Sudra. Kasta Wesya ditetapkan kepada Keturunan
Majapahit yang menyertai Dalem Samprangan, Sedangkan Kasta sudra ditetapkan
kepada penduduk Bali Age/
Sistem Baru ini mengabaikan Sastra-Sastra, lontar-lontar Agama Hindu,
maupun Prasasti-prasasti yang sudah ada di Bali sebelumnya, seperti
prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja Udayana mapun raja Anak
Wungsu.
Pada Prasasti Bila, yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu tahun 995 C atau 1073 M), M) menyebutkan peran para Brahmana. Itu berarti yang disebut Brahmana pada zaman itu pasti bukan Anak cucu Danghyang Nirartha, karena Danghyang Nirartha baru tiba di Bali th. 1489 M atau hampir 500 th setelah prasasti Bila diterbitkan. Yang disebut para Brahmana pada prasasti Bila th. 995 C (1073 M) pastilah Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, serta para Bhamana keturunan Rsi Markandeya dan Mpu Kepandean yang sudah Dwijati (Mpugdala) yang membantu raja Anak Wungsu.
Seperti dicatat dalam sejarah, bahwa pada saat Prabu Udayana menjadi raja di Bali (989-1011M), terdapat 9 sampradaya (sekte agama Hindu) di Bali. Untuk membangun agama Hindu di Bali, Prabu Udayana meminta bantuan 5 Brahmana bersaudara yang berasal dari JAMBUDWIPA/INDIA ( I Gusti Bagus Sugriwa : Babad Pasek. Penerbit Balimas Dps. Halaman 15) yang menetap di Jawa Timur, diantaranaya : Mpu Rajakerta yang kemudian menjadi Senopati Kuturan sekaligus Bhagawanta Kerajaan, didampingi oleh saudara-saudaranya : Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Gnijaya. Sedangkan adiknya yang paling kecil Mpu Baradah tetap tinggal di Jawa diminta oleh Raja Airlangga (Anak Prabu Udayana - kakak dari Anak Wungsu) menjadi Bhagawanta kerajaan di Kahuripan- Jawa Timur.
Pada Prasasti Bila, yang dikeluarkan oleh raja Anak Wungsu tahun 995 C atau 1073 M), M) menyebutkan peran para Brahmana. Itu berarti yang disebut Brahmana pada zaman itu pasti bukan Anak cucu Danghyang Nirartha, karena Danghyang Nirartha baru tiba di Bali th. 1489 M atau hampir 500 th setelah prasasti Bila diterbitkan. Yang disebut para Brahmana pada prasasti Bila th. 995 C (1073 M) pastilah Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, serta para Bhamana keturunan Rsi Markandeya dan Mpu Kepandean yang sudah Dwijati (Mpugdala) yang membantu raja Anak Wungsu.
Seperti dicatat dalam sejarah, bahwa pada saat Prabu Udayana menjadi raja di Bali (989-1011M), terdapat 9 sampradaya (sekte agama Hindu) di Bali. Untuk membangun agama Hindu di Bali, Prabu Udayana meminta bantuan 5 Brahmana bersaudara yang berasal dari JAMBUDWIPA/INDIA ( I Gusti Bagus Sugriwa : Babad Pasek. Penerbit Balimas Dps. Halaman 15) yang menetap di Jawa Timur, diantaranaya : Mpu Rajakerta yang kemudian menjadi Senopati Kuturan sekaligus Bhagawanta Kerajaan, didampingi oleh saudara-saudaranya : Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Gnijaya. Sedangkan adiknya yang paling kecil Mpu Baradah tetap tinggal di Jawa diminta oleh Raja Airlangga (Anak Prabu Udayana - kakak dari Anak Wungsu) menjadi Bhagawanta kerajaan di Kahuripan- Jawa Timur.
Setelah kasta-kasta ini disahkan di Bali, diberlakukan pula perbudakan. Raja-Raja Bali dengan dukungan Kelompok “Brahmana hasil Strukturisasi “, membuat awig-awig untuk mengesahkan
perbudakan. Menghukum rakyat Bali yang beragama Hindu (awig-awig tersebut tidak
berlaku bagi umat selain umat Hindu) yang melanggar awig-awig sebagai budak dan
boleh di jual oleh Raja. Raja-raja Bali memperoleh harta untuk membangun Puri-purinya yang megah dengan mengekspor para budak ber-agama Hindu kepada Kompeni di Batavia.
Sistem Kasta dan Perbudakan ini jelas mengadopsi konsep-konsep
Injil dan per-budakan dalam masyarakat Arab dan Eropa tanpa reserve. Karena dalam Agama Hindu tidak
dikenal istilah Kasta dan Perbudakan.
Sistem Perbudakan yang dijadikan komoditas Ekspor
oleh Raja-Raja Bali, menyumbang hampir 60 % budak-budak kepada VOC di Batavia.
Budak-budak beragama Hindu dari Bali di jual ke Batavia, Hindia Barat,
Afrika Selatan, dan pulau-pulau di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Sebagai contoh: klan Sudira di Depok yang disebut “Belanda Depok”, adalah
orang yang berasal dari Gianyar dan tidak ada sedikitpun identitas ke
Hinduan atau Bali nya yang tersisa, hanya saja kalau kita tanya mereka
mengaku kakeknya berasal dari Gianyar-Bali, Demikian juga Untung Surapati,
budak belian berasal dari Bali berkat perjuangannya yang gigih dan
kecerdasannya bisa menjadi Tumenggung di Pasuruan - Jawa Timur tetapi identitas
ke Hinduan-nya sedikitpun tidak tersisa.
Para Durjana menguasai Umat Hindu
Dari manakah Raja-Raja Bali saat itu mendapat ilmu
tentang perbudakan dan kasta-isme?, Apa sumbangan para “Brahmana” dan para Raja Bali saat itu (
abad 14-19 ) terhadap umat dan Agama Hindu?, Kenapa para Durjana serakah bisa
menguasai umat Hindu di Bali saat itu ?.
Inilah tanda-tanda kehancuran Agama Hindu di Indonesia. Karena para
“Brahmananya”
tergoda oleh prestise pribadi, harta dan kuasa. Para Brahmana dan Raja tidak cerdas mengamati peta politik global, tidak peduli terhadap ajaran
kitab suci Weda. Para Raja bermahkotakan Emas, dan Para Brahmana juga
berkalung dan ber Ketu (mahkota) bertatahkan permata dan emas, sementara
rakyat/umat-nya telanjang tanpa busana, fenomena ini sangat menarik minat
wisatawan Eropa datang ke Bali, untuk melihat kemolekan gadis-gadis Umat Hindu
Bali yang ber-telanjang dada mondar-mandir dijalan. Dan ini membanggakan para
raja-raja Bali untuk kembali mendatangkan dolar.
Sebelum kedatangan Danghyang Nirarta, tidak ada
kasta-kasta maupun Budak dari Bali. Umat Hindu di Bali tidak ada yang bernama Anak Agung, Ida Bagus, Cokorda,
maupun I Dewa. Silahkan lacak nama-nama orang Bali pada Babad-babad, kapan
nama-nama itu mulai muncul dalam khasanah nama-nama orang Bali. Tidak ada yang
namanya AA.IB. IC. ID,IGN IGst, maupun I Wayan yang mengaku Brahmana, Ksatrya,
maupun Sudra. Martabat orang Bali ditentu-kan oleh perilakunya. Warna nya ditentukan oleh
pekerjaannya. Bahkan Sri Kresna Kepakisan raja Pertama Gelgel sebelumnya bernama Ketut Kresna
Kepakisan, karena merupakan anak ke 4 dari Danghyang Kepakisan seorang Brahmana
dari Jawa Timur. Kresna Kepakisan tidak bernama Ida Bagus Kresna Kepakisan,
meskipun beliau anak seorang Brahmana, tidak juga memakai nama Anak Agung atau I Dewa Kresna
Kepakisan, meski beliau menjadi raja diraja Bali. Namanya cukup menjadi Sri
Kresna Kepakisan.
Begitu pula raja-raja Bali maupun Jawa sebelumnya
seperti; Sri Ugrasena, Sri Kesari Warmadewa, Sri Udayana, Sri Wijaya, Sri
Dharmawangsa dll, cukup memakai gelar Sri, sedangkan panglima perang pejabat
kerajaan lebih senang memakai nama-nama binatang, seperti; Kebo Iwo, Kebo
Parud, Gadjah Mada, Gadjah Maruga, Patih Wulung, dll. sebagai tanda bahwa Agama Hindu
dan adat Bali/Jawa saat itu sangat egaliter. Salah seorang anak Sri
Kresna Kepakisan, yaitu Dalem Taruk anak anaknya bernama I Gede Pulasari, I
Gede Bandem, I Gede Balangan, Merupakan generasi ke 3 Dinasti Kepakisan, tidak
memakai gelar bentukan Danghyang Nirarta dan Dalem Waturenggong.
Kasta di
Bali pada masa kolonial
Th. 1882, kolonialis Belanda mendirikan Raad Van
Kerta, mahkamah adat Bali, dengan alasan politik etis.
Hakim-hakim pada Raad Van Kerta diisi oleh para Pedande (bukan Sri
Empu, Bujangga Wisnawa maupun Rsi), meskipun tidak jarang mereka tidak mengerti
masalah hukum, dan tidak mengerti teks-teks hukum keagamaan seperti Agama,
adigama, purwa agama dan kutara agama yang ditulis dalam bahasa jawa
kuno.
Belanda membantu pegangan para hakim Raad Van
Kerta dengan menterjemahkan teks-teks tersebut kedalam Bahasa Melayu dan
bahasa Bali untuk digunakan sebagai acuan hukum oleh anggota Raad Van Kerta.
Terjemahan teks-teks dari bahasa Jawa kuno kedalam
bahasa Melayu dan bahasa Bali disesuaikan dengan selera dan kepentingan
kolonialisme dan misionarisme. Hal ini sama dan sebangun dengan upaya Max
Muller beserta kawan-kawannya dalam menter-jemahkan kitab Weda yang disesatkan untuk
diterapkan pada masyarakat Hindu di India. Geoffrey Robinson mengomentari
hal ini sebagai rekayasa tradisi Bali yang paling mencengangkan oleh Kolonial
Belanda.
(Geoffrey Robinson; Sisi Gelap Pulau Dewata, 2005
hal. 51).
Kitab Agama, adigama, purwa agama dan kutara
agama, sewaktu diterapkan oleh Raja-Raja Hindu di Jawa, tidak pernah
menerap-kan kasta-kasta, karena tidak ada satu kata pun dalam kitab Hukum
Hindu maupun kitab Weda yang berisi kata kasta.
Kasta tidak dikenal dan merupakan kata asing
bagi umat Hindu, apalagi menjadikan para pesakitannya sebagai Budak.
Kasta dan Budak adalah akal-akalan kolonialis semata, sebagai cerminan tradisi
kitab Injil dan Al Quran yang diberlakukan di Arab dan Eropa.
Pada tahun 1910 kolonialis Belanda meng ikuti jejak
rekan Eropa-nya di India yaitu kolonialis Inggris,
mendukung penetapan konsep kasta sebagai fondasi prinsipil masyarakat
Bali. Dengan demikian koloni-alis Belanda, melegalkan
dan meneguhkan hierarki kasta beserta seperangkat aturan menyangkut hubungan antar
kasta dan hak-hak istimewa kasta, yang sebelum-nya tidak pernah ada dalam
praktek di Bali. Dalam kata-kata V.E. Korn, orang Belanda, pakar Bali dan kontrolir
Badung 1925 : ” Bukan saja triwangsa diberi
tempat yang terlalu penting, tetapi juga dilindungi melalui sederet pasal-pasal
yang sangat jauh melampaui para raja dan teks-teks hukum tempo dulu”. Pendeknya, apa yang diartikan sebagai usaha
Belanda untuk bergiat dalam “tradisi” Bali sebagai politik etis, sebetulnya
adalah penciptaan tatanan hierarki baru yang pasti, di mana kekuasaan golongan
kasta tinggi lebih besar daripada sebelumnya, dan terlebih lagi di sahkan oleh
struktur legal, ideologis dan koesif negara kolonial. (Geoffrey Robinson,Sisi
Gelap Pulau Dewata,2005 halaman 51)
Pemurtadan Umat Hindu makin
menjadi-jadi dengan tujuan Konversi
Umat Hindu telah dibuat tersesat oleh sarjana
pseudoilmiah dan misionarisme, juga oleh umat Hindu sendiri yang tercemar
pemikiran misionaris dan tidak kukuh mempertahankan Dharma. Penyesatan tersebut
bahkan sampai ketingkat pemurtadan, menentang perintah kitab suci Yayur Weda
XXVI.2 : Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah, Brahma
rajanyabhyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca artinya : hendaknya wartakan sabda suci ini kepada
seluruh umat manusia, baik kepada para Brahmana, para raja-raja maupun kepada
masyarakat pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku
maupun orang asing sekalipun.
Juga pemurtadan Sloka BG. XVIII.70 : Adhyesyate
ca ya imam, dharmyam samwa-dam
awayoh,jnanayajnena tena‘ham, istah syam iti me matih/ Mereka yang membaca percakapan-Ku ini, oleh mereka Aku telah dipuja dengan yadnya
Ilmu Pengetahuan. Demikian telah
Aku nyatakan.
Sraddhawan anasuyas ca, srinuyad api
yo narah, so’pi muktah subham
lokan, prapnuyat punyakarmanam (BG.XVIII.71) Artinya : Orang yang mempunyai keyakin-an dan tidak
mencela Orang seperti itu, walaupun
hanya sekedar mendengar orang
berbicara kitab suci. Ia juga akan dibebaskan, mencapai dunia kebahagiaan
sebagai manusia yang berbuat kebajikan.
Rakyat Bali yang bukan “berkasta Brahmana “
dilarang belajar Weda. Hanya mereka yang menyebut dirinya kasta “Brahmana” saja
yang boleh belajar agama. Agama dimono-poli oleh Satu kelompok, sedang rakyat tidak boleh
belajar Agama Hindu, kalau belajar Agama Hindu nanti bisa Buduh (=gila) katanya. Bahkan Konon buku-buku Resi Gotama terbit berisikan perintah untuk mengecor mulut orang-orang diluar Kasta Brahmana, apabila berani membaca Weda,
memerintahkan untuk mengecor dengan timah panas telinga orang-orang diluar
kasta Brahmana kalau berani mendengar
mantra/seloka Weda. Dengan Kata lain
Umat diluar kasta Brahmana tidak boleh mendengar dan membaca Kitab Weda.
Kemudian dipromosikan pula konsep ayuwe were tan siddhi palania, (plesetan atau pelintiran dari, Ayu
Were Siddhi palania didalam kitab purwagama) dan “anak mule keto” suatu ungkapan yang selalu terdengar kalau ada
anak-anak/umat Hindu bertanya tentang Agama Hindu. Nawegang antuk
linggih, juga suatu ungkapan yang selalu terdengar mendahului percakapan
terhadap orang yang baru dikenal. Inilah pemurtadan dan penyesatan yang
menjadi-jadi.
Pemurtadan dan penyesatan tersebut didukung oleh
pemerintah kolonialis Belanda dan kaum misionaris kristen yang di-kirim untuk mengalih agamakan
orang Bali. Pemerintah Kolonialis
menguatkan konsep kasta dalam praktek pemerintahan kolonial. Dalam
Notulen konferensi administratif tanggal 15-17 september 1910, collectie Korn no 166; Pemerintah
kolonial Belanda mendukung konsep kasta, sebagai pondasi prinsipil masyarakat
Bali. Dalam penerapan-nya, Pemerintah kolonial Belanda memper-luas kasta-kasta dengan mengangkat pegawai
pamong praja yang pro kolonial dan memberi nya gelar bangsawan secara
turun temurun.
V.E. Korn menyatakan bahwa sebelum
pemberlakuan pemerintahan kolonialis Belanda di Bali, banyak kaum non kasta
yang meduduki jabatan-jabatan dalam otoritas politik seperti : sebagai
punggawa, sedahan, perbekel dan sebagainya dibanding sesudah-nya. Pemerintah Belanda begitu
yakin pada gagasan bahwa ketiga kasta tertinggi
menyusun fondasi terpenting masyarakat Bali,
maka nyaris anggota kasta-kasta itu sajalah yang ditunjuk untuk memegang
jabatan tinggi. Dengan mengutip beberapa contoh, Korn mengatakan
bahwa di Buleleng (Bali Utara) sebelum aturan kastaisme diterapkan, 16
dari 26 Punggawanya bukan dari ketiga kasta tinggi. Bahkan banyak kelompok
diluar ketiga kasta menduduki jabatan tinggi misalnya sebagai pejabat pajak dan
hakim pada masa pra kolonial. (V.E. Korn : Het Adatrecht
van Bali, 1932 dalam Sisi Gelap Pulau Dewata oleh Geoffrey Robinson, 2005)
Penolakan sistem Kasta yang dikait-kaitkan dengan
Agama Hindu bukannya tidak pernah ada saat itu, bahkan saat gagasan
pengadopsian Catur Warna menjadi empat kasta dimunculkan, para Cendikiawan
Hindu maupun yang perduli akan perkembangan Agama Hindu sudah bereaksi
memprotesnya, misalnya dengan terbitnya Surya Kanta, koran berbahasa
Melayu di Bali tahun 1920-an. Tetapi gempuran para Indolog pendukung kastaisme
ditambah dukungan penguasa pribumi boneka kolonialis dan “Brahmana palsu”,
lebih dahsyat dari pada yang menentang kastaisme. Terlebih lagi kondisi
umat Hindu saat itu tidak berdaya oleh kolonialisme, sehingga konsep kaku kasta
maupun aturan-aturannya tetap dijalankan, meski terus mendapat penentangan.
Pada tanggal 20 Juni tahun 1916 warga Desa Lodjeh,
Karangasem, memprotes keputusan Raad Van Kerta, disusul pada bulan Mei
1917 warga Desa Sukawati Gianyar. Dengan todongan bedil kolonialis Belanda,
protes-protes tersebut dapat dipadamkan dengan dibayar nyawa warga Umat Hindu
yang tidak berdaya. Pada kasus Sukawati sebanyak 5 orang umat Hindu mati
dibunuh, 11 orang luka-luka dan 26 orang ditangkap dan di jual sebagai budak.
(Geoffrey Robinson: Sisi gelap Pulau Dewata, LKiS Yogya.2006)
Kasta dan Perbudakan
tidak sesuai dengan ajaran kitab Weda. Tidak ada satu kata-pun dalam
kitab Weda maupun kitab Hukum Hindu yang memuat kata kasta. Kasta dan perbudakan merupakan produk import yang
berasal dari budaya perbudakan masyarakat Arab dan Eropa yang tercemin dalam
kitab suci Al Qur’an dan Injil (baca Injil Imamat 25/44-46,
keluaran 21/1-6, timotius 6/1,titus 2/9, Efesus 6/5-6. I Petrus 2/18 maupun Al Qur’an
Surat An Nissa ayat 24 dan Surat Al Mu’minuum ayat 1-6).
Bahwa Agama Hindu telah disudutkan dari dua sisi.
Dari sisi kebijakan pemerintahan kolonial dan sisi pemikiran. Bahkan sampai
Indonesia merdeka praktek-praktek pengang-katan pejabat berdasarkan kastaisme terus
berlanjut.
Ir. Soekarno yang lahir dari rahim Ni Nyoman Rai
Sarimben, warga pasek Bale Agung
Buleleng - leluhurnya satu Ayah dan satu Ibu dengan Ken Dedes-Permaisuri
Ken Arok, salah satu Leluhur
Raja-Raja di Jawa, mengganti nama ibundanya menjadi Ida Ayu Nyoman Rai,
guna melanggengkan Kasta-isme yang tidak tahu diri.
Tumbuhnya kesadaran baru dikalangan Umat Hindu
Pada tahun 1980-an, tumbuh kesadaran baru
dikalangan Umat Hindu. Dengan sangat Hormat, berkat Jero Mangku Gde Ketut
Subandi seorang Pemangku Adat dan ahli babad Bali, membuka
belengu tirani kastaisme di Bali. Dengan Lantang Beliau menganjurkan kepada
Umat Hindu untuk membaca Weda dan me-dwijati beberapa umat menjadi
sulinggih ( Ida Pandita Mpu ). Jero Mangku Gde Ketut Subandi juga
menunjukkan bukti-bukti kesejarahan leluhur orang Bali, melalui babad-babad,
yang selama ini telah dimanipulasi dan di-kotak-kotak kan diberbagai
kasta.
Kini abad tehnologi, Kasta sudah mulai luntur baik
di India maupun di Bali. Bukti-bukti kesejarahan sudah ditunjukkan. Dalil-dalil
rasisme/kastaisme yang dilekatkan kepada umat Hindu sudah ditolak karena
terbukti merupakan propaganda kaum Adharma dan ditampilkan Catur Warna
yang asli, seperti tertulis dalam kitab-kitab Weda (bukan Weda terjemahan Max
Muller dkk). Tetapi kaum Adharma tidak pernah kehilang-an energi untuk terus memompakan
sema-ngat Kastaisme, yang dilekatkan kepada agama Hindu.
Rupanya penyesatan Weda oleh kaum Adharma juga
tidak pernah kendor. Ibarat Buruk Muka Cermin di Belah; Konsep
perbudakan di Al Quran dan Injil diterap-kan pada masyarakat Hindu di India dan Bali
yang terjajah. Rakyat India dan Bali saat itu tidak berdaya karena dalam
tekanan pen-jajahan sehingga seolah-olah perbudakan / kastaisme bersumber dari Weda.
Bahwa kasta-kasta di Bali di buat karena
kebodohan umat Hindu saat itu , dan diman-faatkan oleh kaum hedonis
dan kolonialisme. Kini Umat Hindu
sudah pintar-pintar. Bisama Parisadha Hindu Nomor : 03/ Bhisama /Sabha Pandita
Parisada Pusat/X/ 2002 tertanggal 29 Oktober 2002 tentang Pengamalan Catur
Varna, telah dikeluarkan, tetapi kalau hanya sekedar bhisama, masih banyak
pembangkangan, harus ada sangsi hukum positif melalui perda atau
undang-undang Desa pekraman yang baru, untuk menghapus diskriminasi dan
kastaisme. Awig-awig dibuat oleh manusia, bisa diperbaharui dengan
awig-awig yang sesuai dengan tuntutan jaman untuk kepentingan
Manusia. Awig-awig yang terbukti sesat karena mengacu terjemahan
misionaris kristen, harus di musnahkan dan diganti dengan awig-awig
baru yang lebih manusia-wi dan agamis sesuai dengan kitab Weda asli yang
Berbahasa sansekerta.
Empat Kasta tidak sama dengan Catur Warna. Catur
Warna adalah Empat Tipe Kepribadian Manusia
Empat kasta tidak sama dengan Catur Warna. Kasta
merupakan statifikasi sosial yang sangat kaku berdasarkan atas keturunan, Sedangkan Catur Warna merupakan Tipologi
Kepribadian Manusia,yang terbentuk oleh interaksi dinamis triguna karma. Seperti disebutkan dalam BG.
IV.13 : Chatur Varnyam maya srishtam
guna karma vibhagasah, artinya:
Catur warna adalah ciptaanku bardasarkan guna karma yang melekat
padanya.
Triguna sebagai dasar pembentukan Catur Warna
terdiri dari Satwam, Rajas dan Tamas. BG.XIV.5, menyebutkan : Sattwam
Rajas Tamas iti Guna Prakritisamdhawah, artinya:
Satwan rajas tamas merupakan sifat bawaan yang
terlahir dari prakirti.
Selanjutnya Bagawad Gita XIV.6
menyebut-kan Ciri-ciri Satwam sebagai berikut :
Nirmalawat = Sifat yang tidak
tercela.
Prakasakam =
Bercahaya
Anamayam = tidak mengenal sedih/
menderita
Sukhasangena = selalu
memberi rasa senang
Jnanasangena =
memberikan ilmu pengetahuan
Anagha = tidak tercela
Ciri-ciri Rajas (BG.XIV.7) :
Raga = nafsu,
Atmakam = sendiri,
Trsna = nafsu birahi,
Sanga = terikat,
Karmasangena = terikat oleh karma.
Dahinam = Jasad Rohani.
Ciri-ciri Tamas (BG.XIV.8) :
Ajnanam = tidak
berpengetahuan,
Mohanam = kebingungan,
Pramada = tidak peduli/hirau/masa bodo.
Lasya = malas,
Nibrabhis = ketiduran/malas ,
Nidra = tidur,
Satwam menghubungkan seseorang kedalam kebahagiaan, Rajas menghubungkan orang dalam
perbuatan/ karma, sedangkan Tamas
menutup pengetahuan sehingga menjadi kurang waspada. (BG.XIV.9).
Selanjutnya Bagawad Gita XIV.11-13,
menyebutkan : apabila badan ini didominasi oleh Satwam maka Ilmu pengetahuannya menembus didalam
badan melalui semua pintu. Apabila didominasi oleh Rajas maka perilaku yang tampak adalah:
Lobham = Loba, giat dalam usaha,
Prawrttir = Kegiatan kerja duniawi.
Arambah = giat berusaha.
Sprha = kemauan kuat.
Sedangkan apabila Badan ini didominasi oleh Tamas maka akan tampak :
Aprakaso = kekurangan cerah/tdk bersinar,
Aprawrtti = malas.
Pramada = tidak peduli/teledor.
Moha = bingung,
Nidralasya = suka tidur,
Mohanam atmanam = kesesatan jiwa
Triguna sebagai pembentuk struktur Catur Warna terdiri dari :
1. Satwam, merupakan
gudang nilai-nilai moral dan Ilmu pengetahuan, sehingga mampu melakukan sensor bagi individu dalam
menentukan salah atau benar, baik atau jahat, karena Satwam
memperhati-kan prinsip-prinsip moral dan merupa-kan representasi dari norma
umum dan kesusilaan.
2. Rajas, mewakili kenyatan fisik dan sosial seseorang. berpungsi sebagai
penyeim-bang antara Tamas dan Satwam.
3. Tamas, merupakan
struktur kepribadian primitif, tidak sadar, bekerja tidak rasional dan
infulsif,karena merupakan dorongan
kemauan insting.
Catur warna dalam Agama Hindu sangat terbuka.
BG.XVIII.41. menyebutkan : Brahmana ksatrya wisam sudranam ca parantapa,
karmani prawibhaktani swabhwa prabhawir
gunah. Artinya Brahmana
Ksatrya Wesya dan Sudra perilakunya dibentuk oleh sifat bawaan guna (triguna).
Pola perilaku yang ditunjukkan secara terus menerus
oleh tiap-tiap individu menurut Prof. DR. Kusumanto Setyonegoro disebut Kepribadian/
personality . Sedangkan menurut Salvador R Maddi, Kepribadian merupakan
seperangkat karakteristik yang relatip mantap,kecenderungan dan perangai yang
sebagian besar dibentuk oleh faktor keturunan dan faktor faktor sosial,
kebudayaan dan lingkungan. Perangkat variabel ini menentukan persamaan dan
perbedaan perilaku individu.
Jadi Catur Warna bisa pula diarti-kan sebagai Empat Tipe kepribadian manusia - menurut Ilmu Psikologi.
Sangat mungkin Sigmund Freud membangun teori Psiko-dinamis Kepribadian nya setelah
membaca Seloka-seloka Gita ini. Sigmund Freud: menerangkan perbedaan
kepribadian individu karena tiap orang mengalami perangsangan pokok yang
berbeda-beda, yang disebabkan oleh pertentangan terus menerus antara dua bagian
dari struktur kepribadiannya yang menurut istilah Freud disebut ; Id, Ego
dan super ego.
Kepribadian (bhs Inggris Personality), tidak
sama dengan sifat/watak (Bhs Inggris character ). Kepribadian/personality
bersifat menetap,konsisten sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi.
sedangkan watak/ character sifatnya sewaktu-waktu dapat berubah, misalnya
besifat atau berwatak keras kepala, pemarah dls.
Didalam kitab Weda, Seseorang disebut
Brahmana kalau memperlihatkan ciri-ciri
Brahmana seperti disebutkan dalam seloka Bagawad Gita . XVIII.42
sebagai berikut :
Samo = khusuk/tenang,
Damas = menguasai panca indra/mampu mengendalikan diri.
Tapah = mampu mengendalikan nafsu
Saucam = suci.
Arjawa = luhur budinya.
Ksanti = damai/tenang,
Jnanam = berpengetahuan.
Wijnanam = bijaksana/berpengalaman.
Astikyam =
religius.
Seseorang disebut
Ksatrya apabila mem-perlihatkan ciri-ciri Ksatrya
seperti disebut-kan dalam Bagawad Gita.XVIII.43 yaitu :
Sauryam = heroisme/pemberani.
Tejo = lincah.
Dhritir = teguh .
Daksyam = pandai menyelesaikan tugas,
Yuddhe = siap bertempur.
Apalayamam = tidak
pengecut.
Dana = dermawan.
Iswarabhawa = bersifat memimpin/ berwibawa.
Seseorang disebut
Wesya apabila mem-punyai ciri-ciri Wesya
seperti disebutkan dalam BG .XVIII.44 sebagai berikut :
Krsi = mengusahakan pertanian.
Gauraksya = memelihara lembu/berternak.
Wanijyam = berdagang.
Sedangkan seseorang disebut Sudra kalau mempunyai ciri-ciri
Sudra seperti disebut dalam BG.XVIII.44 sebagai berikut :,
Paricaryatmakam = suka melayani
Seorang Brahmana bisa saja terlahir dari warna
Sudra/pelayan, seperti Narada Muni,
meskipun orang tuanya seorang Babu (pembantu rumah tangga) berkat proses
belajar, akhirnya Narada mampu menjadi Brahmana, bahkan kemudian diangkat menjadi Penghulu
di Sorga dengan sebutan Betare Narada. Demikian juga Ksatrya bisa tumbuh
dikalangan Sudra contohnya Radeya, anak
kusir kereta, dan Damar Wulan seorang gembala kuda, dan Juga Bambang Ekalawiya, seorang anak Nisada yang tidak mau diangkat
menjadi murid oleh Rsi Drona karena dianggap bukan Keturunan Ksatrya, berkat proses belajar yang ulet mereka mampu menjadi Ksatrya. Ksatrya bisa juga
berasal dari anak serang bromocorah, seperti Ken Arok-anak seorang pencuri dan penjudi, berasal dari orang tua yang
bukan Ksatrya, bukan pula berasal dari Brahmana, berkat proses belajar Ken Arok akhirnya bisa menjadi Ksatrya /Raja. Seorang Ksatrya bisa juga besar dikalangan
peternak sapi/wesya contohnya Sri Kresna. Seorang Ksatrya bisa juga lahir dari
kalangan yang tidak diketahui identitas/asal-usulnya, misalnya Mahapatih Gadjah
Mada. Seorang Ksatriya bisa juga berasal dari Brahmana misalnya Kresna
Kepakisan, Darmawangsa Teguh, Arya Tatar, Patih Ulung. Dan juga I Gusti Agung Pasek Gelgel yang diangkat menjadi Caretaker Raja Bali th. 1345-1352 oleh Mahapatih Gadjah Mada adalah keturunan seorang Mpu. Seorang Brahmana bisa juga
berasal dari keturunan Raksasa seperti :
Prahlada, anak Raksasa Hiranya Kasipu, bisa menjadi Brahmana. Seorang Brahmana atau Ksatrya bisa pula mempunyai anak menjadi Sudra
atau Wesya, tergantung bagaimana orang tua mendidiknya dan lingkungan yang
mempengaruhinya.
Yayur Weda XXX.5 menyebutkan : Brahmane
brahmanam, Ksatraya rajanam, marudbhyo vaisyam, tapase sudram artinya:
Brahmana untuk pengetahuan, Ksatrya untuk
perlindungan, Waisya untuk perdagangan, dan Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.
Maksud dari mantra tersebut seorang yang mempunyai tipe
kepribadian Brahmana sangat cocok untuk melakukan pekerjaan berkaitan
dengan ilmu pengetahuan seperti menjadi seorang
: guru/dosen/acharya, rohaniawan maupun pendeta/sulinggih.
Sedangkan yang mempunyai tipe kepribadi-an Ksatriya, lebih cocok untuk berprofesi sebagai yang
melindungi seperti; Prajurit/ tentara, Penguasa, dan Pejabat pemerintahan.
Sedang mereka yang bertipe kepribadian Wesya
lebih cocok kalau perkerja sebagai Pedagang, Pengusaha, Peternak atau Petani .
Sedangkan mereka yang mempunyai tipe
kepribadian Sudra lebih cocok berprofesi/ bekerja sebagai pegawai gajian yang lebih banyak
menggunakan tenaga fisik dari pada kemampuan intelektual-nya, seperti menjadi buruh atau pegawai/ karyawan yang tidak menentukan
kebijakan, karena tipe kepribadi an Sudra lebih suka mengerjakan pekerjaan
fisik/suka melayani dan kurang dalam kemampuan Intelektual. (kurang
cerdas).
Dengan mengetahui tipe kepribadian seseorang sangat
membantu untuk kemajuan dalam memilih profesi. Dengan demikian Agama Hindu
sudah sangat maju dalam bidang Ilmu Psikologi. Tentu Profesi ini tidak
menetap, tergantung proses belajar dan lingkungan yang mempengaruhinya.
Tipe kepribadian yang menetap memberikan arahan
kepada kita untuk menyadari potensi maupun kemampuan kita masing-masing,
sehingga akan membawa kita ke arah kesuksesan.
Seorang yang berbakat sebagai pengusaha
akan lebih sukses kalau menjadi pengusaha dari pada menjadi tentara. Atau
seorang yang berbakat jadi Guru akan lebih sukses kalau dia menjadi guru,
dibandingkan kalau menjadi pedangang. Atau seseorang yang tidak mempunyai kecerdasan Intelektual (IQ) dan kecerdasan Emosional (IE)
lebih baik bekerja sebagai pegawai gajian/atau buruh dari pada memaksakan diri
bekerja sebagai Pendeta.Atau bercita-cita menjadi pedagang/ pengusaha.
Lalu bagaimana menentukan tipe kepribadian
seseorang ?.
Menurut R.B.Cattell; ada 16 ciri
dasar yang melandasi perbedaan perilaku
individu. Dalam riset yang dihasilkan dari pengem-bangan daftar pertanyaan 16 PF
Cattell (sixteen Personalities Factor), digunakan
untuk mengukur sejauhmana orang mempu-nyai ciri-ciri tersebut. Diantara ciri-ciri yang
diindentifikasi oleh Cattell adalah: pendiam-ramah
tamah,praktis-imajinatif.santai-tegang rendah hati-tegas. Ke 16 ciri Cattell
tersebut bersifat 2 kutub, masing masing memiliki 2 ektrim( contoh
santai-tegang).
Kitab Bagawad Gita dapat dipakai se-bagai referensi Ilmu
Psikologi modern untuk mengetahui tipe-tipe kepribadian sese-orang. Kepribadian dapat
diketahui dengan memakai ciri-ciri kepribadian ( Tait of personality ) dengan mengacu pada sloka-sloka BG
XIV.6-8 dan BG XIV. 11-13 dan BG. XVIII.42-44 diatas. Dengan mengacu
sloka-sloka tersebut serta mengamati pola-perilaku yang ditunjukkan secara
terus menerus oleh seseorang, dapatlah kita menyimpulkan, seseorang mempunyai
tipe kepribadian Brahmana atau
tipe Kepribadian Ksatrya,
tipe Kepribadian Wesya atau tipe Kepribadian Sudra.
Dengan menggunakan Ilmu Psikologi ini, dapat pula
kita menilai, apakah seorang Perwira Tentara layak disebut Ksatrya apa tidak.
Seorang Pendeta layak disebut Brahmana apa tidak.
Bagaimana dengan Perwira yang kabur dari medan perang/ desersi, atau seorang
Pendeta yang (maaf) membisniskan kependetaannya atau menjual doa-doanya?. Ataupun Pengusaha besar (wesya) yang mendapatkan kekayaan dengan menjual
produk yang dilarang oleh Agama maupun Undang-undang. Atau seorang buruh
tani yang berperilaku sopan santun, selalu membuat orang lain senang,
berpengetahuan Agama yang luas, berpe-nampilan menarik?. Tetapi karena
keadaan membawanya menjadi Buruh?????
Dengan demikian Catur Warna tidak tepat kalau diterjemahkan sebagai Empat
kelompok masyarakat berdasarkan jenis pekerjaan atau profesinya. Karena pekerja-an seseorang belum tentu sesuai dengan pola
perilakunya. Catur Warna lebih cocok
diterjemahkan : Empat tipe kepribadian manusia.
Untuk mengetahui tipe kepribadian sese-orang dapat menggunakan
serangkaian tes dengan mengacu sloka-sloka Bagawad gita XIV.11-13 dan BG.
XVIII.42-44. Dengan mengetahui tipe Kepribadiannya, diharap-kan seseorang memilih
profesi/pekerjaan yang sesuai dengan tipe kepribadiannya. Sehingga membawa ketenangan dan kesuksesan dalam kehidupannya, karena
sesuai dengan “The Right Men and The Right Job”. Manusia
bekerja/berprofesi sesuai dengan minat
dan keahliannya.
Kesimpulan :
1.
Kasta tidak dikenal dalam Kitab suci Weda.
2. Kasta mulai menyebar di Indonesia semenjak
runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit
3. Kasta di Bali di buat oleh Danghyang Nirarta
sekitar abad ke 15 karena terpengaruh pemikiran Rasialis dan Perbudakan Arab
dan Eropa
4. Kolonialis Belanda memperkuat kastaisme di Bali
5. Umat Hindu telah menolak konsep kasta semenjak
kasta dikaitkan dengan Catur Warna, bahkan sampai
mengor-kan nyawa dan diasingkan sebagai budak belian.
6. Catur Warna tidak sama dengan Empat Kasta
7. Catur Warna adalah Empat Tipologi Kepribadian
Manusia berdasarkan interaksi dinamis triguna (satwam, rajas, tamas) dan Karma
8. Kasta merupakan Stratifikasi sosial yang kaku, merupakan cermin rasialisme
dan perbudakan masyarakat Arab dan Eropa yang mendasarkan masyarakatnya pada
kitab Al Qur’an dan Injil
Daftar Kepustakaan :
5. Donder,I Ketut; The tru history
and the religion of India. Dalam Media Hindu ed. 92 halaman 44-45.
Oktober 2011
6. Singgih Wikarman, I Nyoman; Leluhur Orang Bali, dari dunia babad dan sejarah.
Paramita Surabaya, 1998
7. Jero Mangku Ketut Soebandi; Babad
Warga Brahmana, Pandita Sakti Wawu Rawuh, asal-usul, peninggalan, dan Keturunan
Danghyang Nirartha, Pustaka Manikgeni, Jkt. 1998
8. Geoffrey Robinson ; Sisi Gelap pulau Dewata, LkiS, Yogyakarta 2005
9. Nurul Huda; Tokoh Antagonis Darmo Gandul; pura pustaka, Yogyakarta. 2005
10. Pudja G :Bagawad gita : lembaga peneliti dan pengembangan Weda, Maya
Sari Jkt 1985/1986
11. Kanalayan M. Talreja,Veda & Injil, Ngakan Made Maadrasuta (Editor). Media Hindu Jkt,
2005
12. R.B.
Cattel :Personality and Mood by Questionare; dlm Organissi jilid 1;
Gibson dkk,Erlangga, Jkt..1989
13. Mudiarcana,
ING. “Kepribadian Hindu dan Pembangunan Masa Depan”. Dalam , Cendekiawan
Hindu Bicara. Putu Setia (ed),Yayasan Dharma Narada hal 70-87. Denpasar 1992
Dr.ING.Mudiarcana.
Mantan Seretaris Jenderal DPP
Pemuda Hindu Indonesia 2000-2005 kini bekerja sebagai Dokter.
รจSILAHKAN MENGUTIP DAN
MENYEBARKAN SEMUA TULISAN DALAM BLOG INI.ASAL MENYEBUTKAN SUMBERNYA <==
Baca Juga :
ILMU
SOSIAL
ILMU
PSIKOLOGI
TENTANG
HINDU
SEJARAH
http://dharmagupta.blogspot.co.id/2016/08/mayadanawa-dan-penyerangan-raja.html http://dharmagupta.blogspot.co.id/2017/04/asal-usul-untung-surapati.html
BABAD
