Oleh : Dr. ING. Mudiarcana
Wkl. Ketua PHDI OKU
Untuk bisa mencapai sorga, seseorang perlu melakukan 4 (empat) hal selama hidupnya di dunia/mayapada. Ke empat
hal tersebut, yaitu :
1.
Ber-Yadnya,
2.
Ber- Dana punia
3.
Ber-Tapabrata
dan
4.
Ber Karma yang baik
Yajna dana tapah karma na tyajyam karyam ewa tat, yajno danam tapas
cai’wa pawanani manisinam ( BG. XVIII.5)
Beryadnya, berdana, bertapa dan karma jangan diabaikan,
melainkan harus dilakukan, sebab beryadnya,ber-danapunia, ber-tapabrata adalah
pensuci bagi orang arif bijaksana.
1.
Yadnya
Bekal/Infestasi pertama
untuk dibawa ke Sorga yaitu : Ber-Yadnya / Bhakti kepada Hyang Widdhi
yang kita lakukan selama hidup di Dunia/Mayapada
Yadnya harus dilakukan menurut petunjuk kitab suci dengan
tidak mengharap pahala,dan percaya sepenuhnya upacara ini sebagai tugas
kewajiban sebagai wujud bakti kepada Hyang Widdhi. Yadnya dilakukan bukan
semata-mata untuk keperluan kemegahan belaka.
Apalagi apabila yadnya dilakukan tanpa menurut peraturan kitab suci
dimana makanan tidak dihidangkan, tanpa diserta mantra tanpa daksina dan tanpa
keyakinan.(BG.XVII.11-13)
Semua yadnya harus ditujukan untuk mengagungkan kemuliaan
Hyang Widdhi, karena Hyang Widdhi-lah yang menerima semua yadnya dan tapa
seperti sabda Bagawad Gita berikut :
Bhoktaram yajnatapasam, sarwaloka maheswaram, sahridam sarwabhutanam, jnatwa mam santim ricchati (BG. V.29)
Artinya
Dengan mengetahui Aku sebagai penerima segala yadnya
dan Tapa, Tuhan seru sekalian alam, pencipta semua mahluk, ia mencapai
kedamaian abadi
Sri Krisna bersabda : “ Ada tiga macam kepercayaan
(sraddha), yang dibentuk oleh watak badan rokh yaitu bersifat sattwika,
rajasika dan tamasika. Kepercayaan tiap-tiap individu tergantung pada sifat
wataknya, manusia terbentuk oleh
kepercayaannya, apa kepercayaannya begitu pula watak nya”.(BG.XVII.2-3).Orang
yang bersifat Satwika menuja Dewa- Dewa, yang bersifat Rajasika memuja Yaksa
dan Raksasa, sedangkan yang bersifat Tamasika memuja roh orang mati dan
Butakala (=setan) (BG. XVII.4)
Dengan berbakti kepada-Ku, ia mengetahui Aku, siapa dan apa
sesungguhnya Aku itu dan dengan mengetahui hakekat-Ku, ia mencapai Aku
dikemudian hari. (BG.XVIII.55)
Berlindunglah engkau hanya kepada-Ku, dengan seluruh jiwa
ragamu, Oh Bharata, dengan restu-Ku engkau akan mencapai kedamaian tertinggi
dan tempat yang kekal abadi (BG.XVIII.63)
Dengan memusatkan pikiranmu kepada-Ku, engkau menjadi
pengikut-Ku, bersujud kepada-Ku, sembahlah Aku, engkau akan tiba kepada-Ku, Aku
berjanji sepenuhnya kepada-mu sebab engkau Aku kasihi. (BG.XVIII.65)
2.
Berdanapunia
Bekal/infestasi ke dua yang dibawa ke Sorga yaitu :
Dana/Ber-Dana punia yang kita lakukan selama hidup di Dunia/Mayapada
Danapunia atau sedekah harus diberikan tanpa mengharap
kembali, dengan keyakinan sebagai tugas untuk memberikan pada tempat penerima
yang patut misalnya di Pura atau tempat-tempat Suci, anak anak yatim piatu,
orang-orang jompo yang tidak punya keluarga. Danapunia seperti ini disebut satwikam.smrtam
(BG.XVII.20)
Danapunia atau sedekah yang diberikan dengan harapan untuk
didapat kembali atau memperoleh keuntungan dikemudian hari dan dengan perasaan
tidak tulus, sedekah seperti ini disebut Rajanam smritam(BG.XVII.21)
Danapunia atau sedekah yang diberikan pada kesempatan dan
waktu yang salah, kepada mereka yang tidak patut (misalnya diberikan untuk
berjudi, membeli minuman keras atau Narkoba) dan tanpa upacara dan penghinaan
disebut tamasa (tamasam udahritam) (BG.XVII.23)
Selalu mempersembahkan Dana
punia merupakan infestasi/bekal ke dua Umat Hindu menuju sorga/moksa
setelah beryadnya/bhakti/sembahyang. Selain sebagai infestasi di sorga
Ber-Dana Punia yang rutin dilakukan juga berfungsi untuk men-sucikan
harta benda (rejeki) yang kita peroleh. Sebab dengan men-Dana punia-kan
sebagian harta yang kita peroleh maka harta benda kita akan me-sari. Dalam
Sarasamuscaya sloka 261, 262, 263 dan Ramayana sarga II bait 53, 34 disebutkan
bahwa harta yang didapat (hasil guna kaya) hendaknya dibagi tiga yaitu untuk
kepentingan: Dharma 30%, Kama 30%,
dan Dana harta ( Modal Usaha 40%.)
Artinya:
Ada orang yang tidak ber-dana punia, tidak mengekang indria, tidak menggelar yoga dan tapa, serta merta memohon kemuliaan kepada Hyang Widhi, maka dikembalikanlah ( tidak dikabulkan ) doa permohonannya itu bahkan mendatangkan kesengsaraan dan disiksa oleh sifat-sifat loba/ rakus dan sakit hati/ dengki.
Berdana punia sangat penting dan wajib dilakukan oleh umat Hindu, apalagi dijaman Kaliyuga ini. Berdana Punia merupakan prioritas utama beragama seperti dinyatakan dalam sloka berikut :
Tapah para, kerta yuge.
Tretayam jnyana mucyate.
Dvapare yadnyavaivahur.
Daana mekam kali yuge.
(Manawa Dharmasastra. I.86).
Maksudnya:
Pada zaman Kerta puncak beragama dengan Tapa. Pada zaman Treta dengan Jnyana. Upacara Yadnya pada zaman Dwapara. Sedangkan pada zaman Kali dengan Daana Punia.
Dalam wrhaspati Tattwa sloka 26
dinyatakan tujuh macam perbuatan yang
tergolong Dharma, satu diantaranya adalah dana atau dana punia. Berdasarkan
pembagian Dharma serta peruntukan dari hasil karya (penghasilan) seseorang,
maka dapat diperinci sebagai berikut: sekitar 30 persen (yang diperuntukkan
untuk kepentingan Dharma) dibagi tujuh, sehingga dapat dibulatkan menjadi empat koma tiga persen (4,3%). Dengan
demikian setiap umat Hindu wajib menyisihkan empat koma tiga persen (4,3 %) dari penghasilan
bersihnya secara khusus untuk di dana punia kan.
Sloka XII.5/106 dari Arjuna Wiwaha:
Hana mara janma tan papihutang brata yoga
tapa, angetul aminta wirya sukaning widhi, sahasika. binalikaken purihnika
lewih tinemuniya lara. sinakitaning rajah tamah, inandehaning prihat. Artinya:
Ada orang yang tidak ber-dana punia, tidak mengekang indria, tidak menggelar yoga dan tapa, serta merta memohon kemuliaan kepada Hyang Widhi, maka dikembalikanlah ( tidak dikabulkan ) doa permohonannya itu bahkan mendatangkan kesengsaraan dan disiksa oleh sifat-sifat loba/ rakus dan sakit hati/ dengki.
Berdana punia sangat penting dan wajib dilakukan oleh umat Hindu, apalagi dijaman Kaliyuga ini. Berdana Punia merupakan prioritas utama beragama seperti dinyatakan dalam sloka berikut :
Tapah para, kerta yuge.
Tretayam jnyana mucyate.
Dvapare yadnyavaivahur.
Daana mekam kali yuge.
(Manawa Dharmasastra. I.86).
Maksudnya:
Pada zaman Kerta puncak beragama dengan Tapa. Pada zaman Treta dengan Jnyana. Upacara Yadnya pada zaman Dwapara. Sedangkan pada zaman Kali dengan Daana Punia.
Selain merupakan prioritas kegiatan keagamaan di jaman Kaliyuga, Berdana punia juga berfungsi untuk menyucikan/meruwat
atau melukat diri dan men-sucikan harta benda
(rejeki) yang kita peroleh. Dengan ber dana punia secara rutin sebesar 4,3 % dari harta guna
kaya yang kita peroleh maka harta benda kita akan menjadi me-sari.
3.
Bertapa Brata
Bekal/infestasi
ketiga untuk dibawa ke Sorga yaitu: Tapa/Tapabrata yang kita
lakukan selama hidup di Dunia/Mayapada
Yang dimaksud bertapa-brata (tapa) adalah pengendalian diri
yang dilakukan dengan hormat
kepada para Dewa-Dewa, para Dwijati, Guru dan orang Arif bijaksana dengan cara sauca/suci,
arjawa/benar, brahmacari/berguru kepada brahmana, dan ahimsa/tidak
menyakiti atau membunuh mahluk lain disebut bertapa dengan badan/perilaku( Sariram
tapa ucyate)(BG.XVII.14)
Kata-kata yang tidak melukai hati/tidak menyinggung
perasaan/tidak menyebabkan orang marah (Anudwegakaram wakyam),
dapat dipercaya (satyam wakyam), lemah-lembut dan berguna (Priyahitam
wakyam), demikian pula membiasakan diri dalam mempelajari kitab-kitab
weda (swadhyayabhyasananam)
ini dinamakan bertapa dengan ucapan (wanmayam tapa ucayate)
(BG.XVII.15)
Pikiran tenang(Manahprasadah), bersikap lemah
lembut(Saumyatwam), pendiam(maunam), mengendalikan
diri(atmawinigrah), jiwa suci(bhawasamsuddhir), ini
semua disebut bertapa dengan pikiran(Tapo manasam ucyate) (BG.XVII.16)
Bertapa dengan badan, bertapa dengan ucapan/kata-kata dan
bertapa dengan pikiran disebut juga Trikaya parisudha, tiga hal
yang harus disucikan yaitu :mensucikan
perbuatan /badan (Kayka parisudha), mensucikan
ucapan/kata-kata (Wacika parisudha) dan mensucikan
pikiran/perasaan (Manacika parisudha)
Selain ber Tri Kaya Parisudha, bertapa juga
dilakukan dengan pengendalian makan dan minum
serta pengendalian Kama ( napsu seksual )
Makanan yang menyehatkan, memberi hidup, memberi kekuatan,
tenaga, kebahagiaan dan kesenangan, terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak
adalah yang disukai oleh sattwika,
Makanan yang pahit, asam, asin, pedas banyak rempah rempah,
membakar, yang menyebabkan kesusahan, kesedihan dan penyakit (misalnya Alkohol
dan Narkoba) disukai oleh Rajasika
Makanan usang atau basi, hilang rasa, busuk, berbau tidak
sedap, sisa-sisa, tidak bersih adalah makanan yang sangat digemari oleh
tamasika.
4.
Karma
Bekal/infestasi ke empat yang akan dibawa ke Sorga adalah
: Karma/perilaku hidup kita sehari-hari
di Dunia/Mayapada
Karma atau perilaku sehari-hari, merupakan infestasi
(modal/bekal) ke 4 menuju pensucian diri
supaya sang atma bisa mencapai Sorga. Berperilaku yang suci atau
mensucikan perbuatan (Kayka
parisudha). Yaitu melakukan
perbuatan sesuai Dharma dan menghindari perbuatan Adharma.
Yang termasuk perbuatan Adharma yaitu : Sad Ripu dan Sad Atatayi
Sad Ripu adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri,
yaitu:
1.
Kama artinya sifat penuh nafsu indriya.
2.
Lobha artinya sifat loba dan serakah.
3.
Krodha artinya sifat kejam dan pemarah.
4.
Mada artinya sifat mabuk dan kegila-gilaan.
5.
Moha artinya sifat bingung dan angkuh.
6.
Matsarya
adalah sifat dengki dan iri
hati.
Sad Atatayi berasal dari bahasa Jawa kuno (Kawi), terdiri dari
dua kata yaitu : "Sad" artinya enam, dan "Atatayi" artinya
kejahatan. Jadi sad atatayi artinya enam kejahatan yang dilarang Agama Hindu
yaitu :
1.
Agnida: membakar rumah atau milik orang lain, termasuk
meledakkan bom,
2.
Wisada:
meracuni orang atau mahluk
lain.
3.
Atharwa: menggunakan ilmu hitam (black magic) untuk
menyengsarakan orang lain.
4.
Sastraghna: mengamuk atau membunuh tanpa tujuan tertentu
karena marah.
5.
Dratikrama: memperkosa, pelecehan sex.
6.
Rajapisuna: memfitnah
Dalam Bhagavadgita XVI.21-22. Kama (nafsu sex), krodha
(marah) dan lobha (serakah) disebutkan sebagai tiga jalan
menuju neraka (Triwidham narakasye’dam), Jalan untuk menuju
kehancuran diri (dwaram nasanam atmanah ), sehingga ketiganya harus
disingkirkan (tasmad etat trayam tyajet) dari diri manusia. Orang yang
bisa membebaskan diri dari Kemarahan, Keserakahan, dan Nafsu sexual yang
tidak pantas, dan berbuat untuk
kemuliaan Tuhan YME akhirnya bisa mencapai tempat yang tertinggi ( sorga
bahkan moksa)
Jadi kesimpulannya :
Setiap umat Hindu harus melaksanakan
- Yadnya : atau selalu berbakti/bersembahyang kepada Hyang Widdhi
- Dana :Selalu mendana puniakan 4,3 % harta guna kaya yang diperoleh
- Tapa : Melakukan penghendalian diri, pengendalian terhadap pikiran, perkataan, pengendalian terhadap badan, pengendalian terhadap makan, minum dan nafsu seksual
- Karma : Yaitu selalu perbuat yang baik /Subakarma
ARTIKEL LAINNYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar